Waduuuhhh... dihitung-hitung, udah enam bulan ngga nulis blog -_-" ... Simply karena kemarin-kemarin ini banyak tulisan menumpuk.... dan belum ada yang ingin ditulis lagi. Yup, saya bukan tipe orang yang bisa menulis blog secara rutin. Saya baru bisa membuka laptop dan mengisi blog, ketika ada hal-hal yang udah mulai meluap di hati. Dan kalau nggak dikeluarin, bisa-bisa saya jadi merasa sesak napas, dan otak saya seperti dililit oleh akar pohon yang kuat... seperti sekarang ini...
Ok. Ini masih soal kerjaan. Mungkin, kalau saya masih ABG, dengan suara keras, saya akan bilang, "Gue nggak ngerti, deh! Dia pikir dia siapa?!" Hmmm... Sejujurnya, sekarang pun saya masih berpikir demikian, tapi cukup dalam hati aja.... Sebenernya, orang ini nggak menyakiti saya secara langsung. Ataupun secara pribadi. Tapi, saya hanya merasa dia kurang menghargai profesi saya sebagai orang yang berkecimpung di media. Nggak tahu kenapa. Mungkin, karena banyaknya kasus seleb-wartawan, di mana seleb selalu merasa terganggu dengan wartawan yang kerap memaksa. Jujur, saya sendiri juga nggak suka sama wartawan yang suka memaksa narasumbernya untuk bicara, padahal, jelas-jelas mereka udah bilang, "No comment," atau, "Nggak." Saya juga nggak setuju dengan media yang menulis berita bohong.
Ok, saya akui, media kadang memang menyebalkan.... Bahkan, dulu saya termasuk orang yang membenci wartawan. Tapi, ketika sekarang saya menjadi wartawan (yup, sepertinya saya kena karma. Hahaa...), saya jadi mengerti bahwa dunia wartawan itu cukup keras. Dikejar oleh deadline, ditekan oleh atasan, sementara, tak jarang, diremehkan oleh narasumber (plus, pemasukannya nggak seberapa.... *ups, jadi curcol).
Nah, saya bukan tipe wartawan yang suka memaksa. Kalau narsum nggak mau diinterview, ya udah. Itu hak dia. Privasinya. Saya menghargai keputusannya, dan mencari narsum yang lain. Jadi, saya agak bete kalau ada narsum yang sepertinya kurang menghargai profesi saya. Contohnya, si perempuan ini. Sebut aja namanya A, karena saya nggak akan membocorkan siapa dia.
Jadi, gini. Beberapa bulan yang lalu, saya ingin mewawancarai si A, beserta anak dan suaminya. Ceritanya, pengen mengangkat tentang keluarga bahagia gitu deh. Jadi, dijanjiinlah sama manajernya. Awalnya, jadwal yang dijanjikan, selalu dimundur. Katanya, si A emang lagi sibuk. Tapi akhirnya, sampai juga pada satu jadwal yang fix. Maka, di hari yang sudah dijadwalkan, berangkatlah saya dan tim, meluncur ke rumah si A.
Di tengah jalan, si manajer menelepon dan meng-cancel jadwal pemotretan. Katanya, si A ada meeting tiba-tiba. Jadi, sambil ngomel-ngomel (ngomel-ngomelnya sesudah nutup telepon si manajer, tentunya), saya dan tim balik ke kantor. Sampai di kantor, ketemu dengan beberapa teman dari divisi lain. Setelah mendengar cerita kita yang dicancel begitu saja, teman-teman bilang, "Oh! Dia sih emang terkenal begitu!" Bahkan, orang-orang yang seprofesi dengannya pun mengakui bahwa si A memang cukup menyebalkan.
Tapi, ya udah. Kami maju terus, dan melupakan hal itu.... Yah, nggak sepenuhnya melupakan. Soalnya, kemarin ini, dari divisi media relation ngabarin bahwa majalah saya ada kerja sama dengan salah satu karya seni, dan si A terlibat di dalamnya. Jadi, saya langsung wanti-wanti, "Kalau bisa, langsung dibikin appointment aja. Saya nggak mau kejar-kejar dia lagi."
Dan itulah yang terjadi. Divisi media relation membuatkan janji. Tapi, lagi-lagi, janji wawancara dibatalkan. Kali ini, karena si A nggak ada kabar ketika dikonfirmasi sehari sebelumnya. Akhirnya, saya bilang ke media relation majalah saya, "Mendingan, suruh dia yang dateng ke kantor. Bikin media gathering, jadi kalau dia tiba-tiba cancel, dia ruginya banyak. Atau, cari bintang lain aja."
Sebenernya, si A ini cukup terkenal. Tapi, kalau dilihat, prestasinya juga nggak setinggi langit. Masih banyak seleb lain dengan prestasi segudang, bahkan bisa dibilang legendaris, tapi tetap menghargai wartawan. Atau, menghargai profesi orang lain, bukan cuma media aja.
Menurut saya, menghargai pekerjaan orang lain itu adalah salah satu kunci penting yang bisa membawa seseorang meraih kesuksesan. Keramahan mereka akan membuat orang terus mengingat mereka, apalagi jika semua itu berbanding lurus dengan karya mereka yang luar biasa.
Jangan salah sangka. Nggak semua seleb semenyebalkan si A. Bahkan, sepanjang pengalaman saya mewawancarai sejumlah seleb, baru si A ini aja yang semena-mena. Seleb-seleb lain, baik-baik, kok. Selama kitanya baik, mereka juga baik. Mau yang pendatang baru, ataupun yang jadi bintang papan atas.
Ketika diterima dengan baik oleh para bintang papan atas, saya selalu berpikir, 'Salah satu hal yang membuat mereka besar adalah karena mereka bisa menghargai profesi orang lain. Dan hal itu membuat mereka mendapatkan respect dari orang atas pekerjaan mereka.' Dan ketika diterima baik oleh para pendatang baru, saya berpikir, 'Orang ini sepertinya bisa menjadi besar karena dia menghargai pekerjaan orang lain.' Tidak seperti si A. Sepertinya, sombong memang sudah menjadi watak si A, karena ternyata, di lingkungannya, dia memang terkenal memiliki attitude yang nggak banget.
Mudah-mudahan, besok-besok, nggak perlu wawancara dia lagi, deh!
Hahahaha penasaraaan siapaa sih A iniii?? :D
ReplyDelete