Waduuuhhh... dihitung-hitung, udah enam bulan ngga nulis blog -_-" ... Simply karena kemarin-kemarin ini banyak tulisan menumpuk.... dan belum ada yang ingin ditulis lagi. Yup, saya bukan tipe orang yang bisa menulis blog secara rutin. Saya baru bisa membuka laptop dan mengisi blog, ketika ada hal-hal yang udah mulai meluap di hati. Dan kalau nggak dikeluarin, bisa-bisa saya jadi merasa sesak napas, dan otak saya seperti dililit oleh akar pohon yang kuat... seperti sekarang ini...
Ok. Ini masih soal kerjaan. Mungkin, kalau saya masih ABG, dengan suara keras, saya akan bilang, "Gue nggak ngerti, deh! Dia pikir dia siapa?!" Hmmm... Sejujurnya, sekarang pun saya masih berpikir demikian, tapi cukup dalam hati aja.... Sebenernya, orang ini nggak menyakiti saya secara langsung. Ataupun secara pribadi. Tapi, saya hanya merasa dia kurang menghargai profesi saya sebagai orang yang berkecimpung di media. Nggak tahu kenapa. Mungkin, karena banyaknya kasus seleb-wartawan, di mana seleb selalu merasa terganggu dengan wartawan yang kerap memaksa. Jujur, saya sendiri juga nggak suka sama wartawan yang suka memaksa narasumbernya untuk bicara, padahal, jelas-jelas mereka udah bilang, "No comment," atau, "Nggak." Saya juga nggak setuju dengan media yang menulis berita bohong.
Ok, saya akui, media kadang memang menyebalkan.... Bahkan, dulu saya termasuk orang yang membenci wartawan. Tapi, ketika sekarang saya menjadi wartawan (yup, sepertinya saya kena karma. Hahaa...), saya jadi mengerti bahwa dunia wartawan itu cukup keras. Dikejar oleh deadline, ditekan oleh atasan, sementara, tak jarang, diremehkan oleh narasumber (plus, pemasukannya nggak seberapa.... *ups, jadi curcol).
Nah, saya bukan tipe wartawan yang suka memaksa. Kalau narsum nggak mau diinterview, ya udah. Itu hak dia. Privasinya. Saya menghargai keputusannya, dan mencari narsum yang lain. Jadi, saya agak bete kalau ada narsum yang sepertinya kurang menghargai profesi saya. Contohnya, si perempuan ini. Sebut aja namanya A, karena saya nggak akan membocorkan siapa dia.
Jadi, gini. Beberapa bulan yang lalu, saya ingin mewawancarai si A, beserta anak dan suaminya. Ceritanya, pengen mengangkat tentang keluarga bahagia gitu deh. Jadi, dijanjiinlah sama manajernya. Awalnya, jadwal yang dijanjikan, selalu dimundur. Katanya, si A emang lagi sibuk. Tapi akhirnya, sampai juga pada satu jadwal yang fix. Maka, di hari yang sudah dijadwalkan, berangkatlah saya dan tim, meluncur ke rumah si A.
Di tengah jalan, si manajer menelepon dan meng-cancel jadwal pemotretan. Katanya, si A ada meeting tiba-tiba. Jadi, sambil ngomel-ngomel (ngomel-ngomelnya sesudah nutup telepon si manajer, tentunya), saya dan tim balik ke kantor. Sampai di kantor, ketemu dengan beberapa teman dari divisi lain. Setelah mendengar cerita kita yang dicancel begitu saja, teman-teman bilang, "Oh! Dia sih emang terkenal begitu!" Bahkan, orang-orang yang seprofesi dengannya pun mengakui bahwa si A memang cukup menyebalkan.
Tapi, ya udah. Kami maju terus, dan melupakan hal itu.... Yah, nggak sepenuhnya melupakan. Soalnya, kemarin ini, dari divisi media relation ngabarin bahwa majalah saya ada kerja sama dengan salah satu karya seni, dan si A terlibat di dalamnya. Jadi, saya langsung wanti-wanti, "Kalau bisa, langsung dibikin appointment aja. Saya nggak mau kejar-kejar dia lagi."
Dan itulah yang terjadi. Divisi media relation membuatkan janji. Tapi, lagi-lagi, janji wawancara dibatalkan. Kali ini, karena si A nggak ada kabar ketika dikonfirmasi sehari sebelumnya. Akhirnya, saya bilang ke media relation majalah saya, "Mendingan, suruh dia yang dateng ke kantor. Bikin media gathering, jadi kalau dia tiba-tiba cancel, dia ruginya banyak. Atau, cari bintang lain aja."
Sebenernya, si A ini cukup terkenal. Tapi, kalau dilihat, prestasinya juga nggak setinggi langit. Masih banyak seleb lain dengan prestasi segudang, bahkan bisa dibilang legendaris, tapi tetap menghargai wartawan. Atau, menghargai profesi orang lain, bukan cuma media aja.
Menurut saya, menghargai pekerjaan orang lain itu adalah salah satu kunci penting yang bisa membawa seseorang meraih kesuksesan. Keramahan mereka akan membuat orang terus mengingat mereka, apalagi jika semua itu berbanding lurus dengan karya mereka yang luar biasa.
Jangan salah sangka. Nggak semua seleb semenyebalkan si A. Bahkan, sepanjang pengalaman saya mewawancarai sejumlah seleb, baru si A ini aja yang semena-mena. Seleb-seleb lain, baik-baik, kok. Selama kitanya baik, mereka juga baik. Mau yang pendatang baru, ataupun yang jadi bintang papan atas.
Ketika diterima dengan baik oleh para bintang papan atas, saya selalu berpikir, 'Salah satu hal yang membuat mereka besar adalah karena mereka bisa menghargai profesi orang lain. Dan hal itu membuat mereka mendapatkan respect dari orang atas pekerjaan mereka.' Dan ketika diterima baik oleh para pendatang baru, saya berpikir, 'Orang ini sepertinya bisa menjadi besar karena dia menghargai pekerjaan orang lain.' Tidak seperti si A. Sepertinya, sombong memang sudah menjadi watak si A, karena ternyata, di lingkungannya, dia memang terkenal memiliki attitude yang nggak banget.
Mudah-mudahan, besok-besok, nggak perlu wawancara dia lagi, deh!
Thursday, December 8, 2011
Wednesday, June 22, 2011
Ngidam Yang Susah....
Nerusin cerita liburan di Bali, ada satu dessert yang sepertinya akan memenangkan gelar Dessert of the Year dari saya. Udah lupa sih, nama persis di menunya itu apa. Yang pasti, komponen makanannya terdiri dari apel yang direbus, cinnamon caramel, es krim vanilla, dan ada semacam crust di bawah es krimnya, yang rasanya manis, tapi entah terbuat dari apa.
Waktu memesan menu ini, jujur aja, saya nggak nyangka bahwa rasanya akan seistimewa itu. Bahkan, ketika piringnya datang ke depan mata, mulut kontan berkomentar, "Woooww!".... Dan si pelayan masih berdiri di samping saya. Soalnya, sebenernya, saya memesan menu yang ini hanya supaya makanan yang disantap oleh kakak, sepupu, dan saya, beda-beda, jadi bisa saling nyicip.
Satu sudah pesan banana crepe, dan satu lagi sudah pesan banana split. Terpaksa, saya menjatuhkan pilihan ke menu yang masih asing namanya, berharap rasanya nggak akan kalah dengan menu yang udah lebih familiar. Siapa sangka, ternyata dessert yang saya pilih malah menjadi 'pemenangnya'.
Dessert ini jadi lebih nikmat karena suasana tempat makannya bener-bener beda. Memang, pengunjungnya cuma kita bertiga, tapi di situlah enaknya. Serasa tempat itu jadi milik sendiri. Dan kita duduk di pinggir cafe, dengan pemandangan laut tepat di depan mata (deskripsi lebih jelas ada di '...That Peaceful Place...').
Dengan dessert yang menggiurkan, dan hamparan laut serta debur ombak... bener-bener sebuah momen yang I would treasure for... ever.
Sayangnya, sekarang udah kembali ke Jakarta. Dan di tengah sunyinya malam, dan dinginnya AC... tiba-tiba, lidah ini ingin merasakan kembali manisnya dessert itu. Apel yang direbus hingga garing dan manis, dicampur dengan saus karamel dari kayu manis. Plus es krim vanilla dan crust yang lembut-crunchy. Nyaammm... Tapi, ngidam ini harus diredam, karena susah untuk mendapatkannya.
Memang, harganya hanya sekitar Rp50.000. Tapi, kita harus terbang dulu ke Bali, lalu menempuh perjalanan selama 2 hingga 3 jam ke Amed, baru deh bisa menikmati dessert ini plus pemandangan laut... Ngidam yang susah, euy!
Tapi, kalo lagi ke Bali, cukup worth it juga sih menyisakan satu hari khusus ke sana. Lagian, kapan lagi bisa makan es krim di pinggir laut? Berdoa aja supaya itu cafe masih buka, karena nggak banyak turis yang ke sana. Tempat itu memang belum banyak orang yang tahu... Tapi, saya lupa nama cafe-nya apa. Hehehe...
Biar lebih jelas makanan yang dimaksud kayak apa, ini fotonya:
Sekarang, bayangin aja makan itu, sambil memandangi ini:
Sekarang, bayangin aja makan itu, sambil memandangi ini:
Ngiler? Memang itulah tujuannya, supaya saya nggak ngidam sendirian.. hahahahaa... ;p
Regards,
Risty
Bintang, Bintang, Bintang...
Jauh tinggi, ke tempat kau berada... -Bintang Kecil-
Dulu, waktu masih kecil, hampir setiap malam saya dan kakak (dan sepupu, kalo dia lagi nginep di rumah), keluar rumah, dan menatap langit malam. Nggak peduli dengan dinginnya udara. Hanya untuk melihat kerlip bintang yang bermunculan satu per satu. Lebih bagus lagi kalau di tengahnya ada bulan yang bersinar jernih.
Seiring berjalannya waktu (baca: bertambahnya polusi di Jakarta), makin hari, bintang pun makin sepi. Dan makin hari, kita pun makin malas lagi keluar rumah di malam-malam. Nggak ada lagi yang bisa dilihat di tengah gelapnya malam.
Maka, suatu malam di Anyer pun menjadi salah satu kenangan yang rasanya seperti mimpi. Waktu itu, saya dan beberapa sepupu, juga kakak dan adek2, plus bokap-nyokap dan beberapa om dan tante (kayak iklan mobil yak? ;p) liburan ke Anyer. Tahun berapa persisnya, saya lupa. Yang pasti kayaknya waktu itu saya masih SD. Kita nginep di Anyer untuk beberapa malam. Tapi, hanya satu malam saja yang membekas di memori dari liburan itu, hingga saat ini.
Di depan villa milik salah satu sepupu, kami, bocah-bocah kecil, ngeriung di kap mobil. Entah siapa yang memulai, tapi rasanya, tahu-tahu, kepala kami semua menengadah ke atas. Ke langit malam. Terpana.
Di atas kami, lautan bintang berkelip. Rasanya, langit adalah kanvas dengan warna dasar hitam, lalu diberi sentuhan titik-titik keperakan di setiap ruangnya. Rasanya, kami seperti di bawah selimut berwarna hitam dengan gemerlap manik-manik putih keperakan di sana-sini.
Dan yang lebih menghebohkan lagi, di antara titik-titik bintang malam itu, tiba-tiba di tengah legamnya malam, muncul... (tenang, ini nggak horor, kok ;p)... serbuk-serbuk keperakan yang seperti sedang 'lari', lalu menghilang.
"Itu apa, sih? Bintang jatuh, ya?!"
Saya lupa siapa yang pertama kali menyerukan komentar itu, tapi yang pasti, yang melihat bintang jatuh itu nggak cuma satu orang saja. Yang juga melihat sinar keperakan itu, langsung berseru, "IYA!" sambil menunjuk tempat terjadinya bintang jatuh tadi ke sepupu-sepupu yang ketinggalan.
Masih belum selesai ngebahas bintang jatuh yang pertama, tiba-tiba ada lagi yang berteriak, "Itu dia!" Dan seperti efek domino, dalam beberapa detik, bocah-bocah kecil ini pun semakin berisik, berteriak girang setiap kali melihat bintang-bintang 'berjatuhan' di hampir setiap sudut langit.
Sungguh sebuah pemandangan langka untuk anak-anak kota yang dibesarkan di bawah langit penuh polusi udara.
Dan momen istimewa itu berlangsung cukup lama, lho. Dan itu artinya, cukup banyak bintang jatuh yang kami lihat malam itu. Hampir di setiap detik. Saking banyaknya, sampe nggak tahu lagi mau make a wish apa. Dan saking ramainya bocah-bocah ini kegirangan melihat bintang jatuh, salah satu tante sampai ada yang keluar dari villa, ikut menatap ke atas. Tapi, dia bilang, "Mana, sih? Kok, Tante nggak lihat apa-apa, ya. Udah kebanyakan dosa kali, ya, jadi nggak bisa lihat lagi. Anak-anak masih belom ada dosanya, jadi masih bisa lihat."
Sebuah komentar yang langsung disambut oleh teriakan si bocah-bocah, "Ada! Banyak banget!"
Langit malam waktu itu benar-benar bersih. Dan bertahun-tahun berlalu, saya berharap masih bisa kembali melihat langit malam sejernih waktu itu. Sayang, nggak tahu harus ke mana. Masa ke Planetarium? Nggak seru ah kalo nggak asli... ;p
Tapi, keinginan untuk merasakan kembali pengalaman istimewa itu, cukup terbayarkan ketika liburan di Bali kemarin. Memang, bintangnya nggak sebanyak seperti waktu di Anyer dulu. Tapi, masih cukup banyak jika dibandingkan dengan Jakarta (ya iyalah. Langit Jakarta mah sepi). Lagi-lagi, saya, kakak, dan sepupu, menatap ke langit malam, kali ini kita di dalam mobil. Dan tiba-tiba...
"A shooting star!"
Sekelebat cantik sinar keperakan lagi-lagi terulas di tengah gelapnya angkasa. Dan lagi-lagi, saya dan kakak kegirangan, kayak waktu masih bocah dulu (untung aja nggak dimarahin orang-orang di sekitar, karena waktu itu, sebenernya kita lagi di perumahan... hehe...).
Dan momen itu menyadarkan saya betapa saya ingin hidup di bawah langit malam yang bersih. Di mana hamparan bintang merajai langit malam. Dengan kerlip bintang jatuh yang berwarna putih keperakan itu memberi sentuhan cantik. Saya nggak bisa membayangkan, betapa cantiknya pasti langit malam di masa ketika gugus bintang masih menjadi penunjuk arah. I wish I had lived in those years.
Kini, setiap kali keluar dari gedung kantor, sambil berjalan menuju halte bus TransJakarta, saya selalu menatap ke atas. Berharap, somehow, jajaran bintang menyapa. Tapi ya, namanya juga di Jakarta. Mau lihat cantiknya bulan purnama aja susah karena ketutupan gedung-gedung, gimana mau lihat bintang?
Di manakah saya harus hidup, agar bisa melihat lagi keindahan alam yang sangat jujur itu? Semoga suatu saat saya bisa membangun rumah di tempat yang jernih udaranya, supaya setiap malam bisa menikmati cantiknya semesta di angkasa...
Regards,
Risty
Dulu, waktu masih kecil, hampir setiap malam saya dan kakak (dan sepupu, kalo dia lagi nginep di rumah), keluar rumah, dan menatap langit malam. Nggak peduli dengan dinginnya udara. Hanya untuk melihat kerlip bintang yang bermunculan satu per satu. Lebih bagus lagi kalau di tengahnya ada bulan yang bersinar jernih.
Seiring berjalannya waktu (baca: bertambahnya polusi di Jakarta), makin hari, bintang pun makin sepi. Dan makin hari, kita pun makin malas lagi keluar rumah di malam-malam. Nggak ada lagi yang bisa dilihat di tengah gelapnya malam.
Maka, suatu malam di Anyer pun menjadi salah satu kenangan yang rasanya seperti mimpi. Waktu itu, saya dan beberapa sepupu, juga kakak dan adek2, plus bokap-nyokap dan beberapa om dan tante (kayak iklan mobil yak? ;p) liburan ke Anyer. Tahun berapa persisnya, saya lupa. Yang pasti kayaknya waktu itu saya masih SD. Kita nginep di Anyer untuk beberapa malam. Tapi, hanya satu malam saja yang membekas di memori dari liburan itu, hingga saat ini.
Di depan villa milik salah satu sepupu, kami, bocah-bocah kecil, ngeriung di kap mobil. Entah siapa yang memulai, tapi rasanya, tahu-tahu, kepala kami semua menengadah ke atas. Ke langit malam. Terpana.
Di atas kami, lautan bintang berkelip. Rasanya, langit adalah kanvas dengan warna dasar hitam, lalu diberi sentuhan titik-titik keperakan di setiap ruangnya. Rasanya, kami seperti di bawah selimut berwarna hitam dengan gemerlap manik-manik putih keperakan di sana-sini.
Dan yang lebih menghebohkan lagi, di antara titik-titik bintang malam itu, tiba-tiba di tengah legamnya malam, muncul... (tenang, ini nggak horor, kok ;p)... serbuk-serbuk keperakan yang seperti sedang 'lari', lalu menghilang.
"Itu apa, sih? Bintang jatuh, ya?!"
Saya lupa siapa yang pertama kali menyerukan komentar itu, tapi yang pasti, yang melihat bintang jatuh itu nggak cuma satu orang saja. Yang juga melihat sinar keperakan itu, langsung berseru, "IYA!" sambil menunjuk tempat terjadinya bintang jatuh tadi ke sepupu-sepupu yang ketinggalan.
Masih belum selesai ngebahas bintang jatuh yang pertama, tiba-tiba ada lagi yang berteriak, "Itu dia!" Dan seperti efek domino, dalam beberapa detik, bocah-bocah kecil ini pun semakin berisik, berteriak girang setiap kali melihat bintang-bintang 'berjatuhan' di hampir setiap sudut langit.
Sungguh sebuah pemandangan langka untuk anak-anak kota yang dibesarkan di bawah langit penuh polusi udara.
Dan momen istimewa itu berlangsung cukup lama, lho. Dan itu artinya, cukup banyak bintang jatuh yang kami lihat malam itu. Hampir di setiap detik. Saking banyaknya, sampe nggak tahu lagi mau make a wish apa. Dan saking ramainya bocah-bocah ini kegirangan melihat bintang jatuh, salah satu tante sampai ada yang keluar dari villa, ikut menatap ke atas. Tapi, dia bilang, "Mana, sih? Kok, Tante nggak lihat apa-apa, ya. Udah kebanyakan dosa kali, ya, jadi nggak bisa lihat lagi. Anak-anak masih belom ada dosanya, jadi masih bisa lihat."
Sebuah komentar yang langsung disambut oleh teriakan si bocah-bocah, "Ada! Banyak banget!"
Langit malam waktu itu benar-benar bersih. Dan bertahun-tahun berlalu, saya berharap masih bisa kembali melihat langit malam sejernih waktu itu. Sayang, nggak tahu harus ke mana. Masa ke Planetarium? Nggak seru ah kalo nggak asli... ;p
Tapi, keinginan untuk merasakan kembali pengalaman istimewa itu, cukup terbayarkan ketika liburan di Bali kemarin. Memang, bintangnya nggak sebanyak seperti waktu di Anyer dulu. Tapi, masih cukup banyak jika dibandingkan dengan Jakarta (ya iyalah. Langit Jakarta mah sepi). Lagi-lagi, saya, kakak, dan sepupu, menatap ke langit malam, kali ini kita di dalam mobil. Dan tiba-tiba...
"A shooting star!"
Sekelebat cantik sinar keperakan lagi-lagi terulas di tengah gelapnya angkasa. Dan lagi-lagi, saya dan kakak kegirangan, kayak waktu masih bocah dulu (untung aja nggak dimarahin orang-orang di sekitar, karena waktu itu, sebenernya kita lagi di perumahan... hehe...).
Dan momen itu menyadarkan saya betapa saya ingin hidup di bawah langit malam yang bersih. Di mana hamparan bintang merajai langit malam. Dengan kerlip bintang jatuh yang berwarna putih keperakan itu memberi sentuhan cantik. Saya nggak bisa membayangkan, betapa cantiknya pasti langit malam di masa ketika gugus bintang masih menjadi penunjuk arah. I wish I had lived in those years.
Kini, setiap kali keluar dari gedung kantor, sambil berjalan menuju halte bus TransJakarta, saya selalu menatap ke atas. Berharap, somehow, jajaran bintang menyapa. Tapi ya, namanya juga di Jakarta. Mau lihat cantiknya bulan purnama aja susah karena ketutupan gedung-gedung, gimana mau lihat bintang?
Di manakah saya harus hidup, agar bisa melihat lagi keindahan alam yang sangat jujur itu? Semoga suatu saat saya bisa membangun rumah di tempat yang jernih udaranya, supaya setiap malam bisa menikmati cantiknya semesta di angkasa...
Regards,
Risty
Thursday, June 16, 2011
... That Peaceful Place ...
Wow... It has been quite a while since I last wrote something on the blog. Work has been consuming all of my time and energy, not to mention that we just published an additional magazine, a collector's edition of Hello! Indonesia Prince William and Catherine Middleton's wedding, to be precised. Have you had one of those? (Yes, I am promoting)... :)
Anyway, all those stress now are gone, because not only the deadline has passed, but also because I just had the best vacation ever!! So, a couple of months ago, I was really stressed out with all the work, and all the traffic in Jakarta, and everything. And I don't know why, I feel that I miss Bali so much... and my sister who lives in Bali, of course.
So, without thinking twice, I booked a plane to have a four-day holiday in Bali... and I'd never regret that decision.
We started our first day by watching the sunset from a pool at The Stones, Kuta. This is the kind of pool that I usually see on TV. That I'd never thought I'd be able to swim in in my life. You know, the kind of pool where we can see the ocean from the edge of it. It was one of the most awesome place to enjoy the sunset... And most importantly, that moment was so much fun because I got to spend it with two of my best friends: my sister and my cousin. :)
The second day, my cousin and I spent a great time at Bedugul, riding a speedboat. My sister couldn't join us because she had to prepare for her high school's prom night... But that day... It was another experience. The lake is so vast, and just by looking down the water from the boat, I can feel that it's very deep. I was kind of hoping a Lochness showed up! Haha... But, that's gotta be quite scary, rite?
But as we rode on the speedboat, I could see the mist covering the mountain in front of us. It was very mystical, I felt like I was one of the students on a boat in the Harry Potter movie, coming to Hogwarts... (Okay, I'm a Harry Potter freak ;p)
Enough with the speedboat. We took a walk around the lake, and though there were a lot of tourists around us, children running around here and there, we just sat on a bench, didn't care with the world that was revolving around us. We sat and enjoyed the chill breeze, with Mandy Moore's Merrimack River played from the iPod. What a peaceful moment...
But, nothing more peaceful than the next day. We went to Amed, to go snorkelling. But it wasn't the snorkelling that 'wow'-ed us. It was the restaurant we ate for lunch and the cafe where we had our dessert. It was located right the edge of a cliff, and from there, we can see the vast ocean. And no one was there except the three of us (and the servants, of course). Enjoying ice cream with the ocean in front of us, and the sound of the wave, and the breeze of the wind.... I'd trade anything to feel that moment again. It's something that I'd surely treasure. That memory would be some kind of a medicine to cure my stress in Jakarta. I even took a picture of the ocean, and made it as the wallpaper on my cellphone, just to remind me that those moments weren't just a dream.
To be honest, I've never been in love with a place like this. I even was in tear at the airport. I wasn't sad with the fact that I had to say goodbye to my sister.... I was sad to leave Bali. People say that Bali is now overexposed... But I don't know why and what... I just feel there's something different with the island. Something so peaceful, that I didn't find anywhere else (not that I've been to a lot of places in Indonesia ;p)
In Bali, I felt that I found the balance I've been looking for. A balance that I didn't find in Jakarta. I could hear the voice in my heart clearly. I felt so peaceful. I felt... SANE!
If I could, I wanna hold Bali so tight in my arms (okay, this is hyperbole ;p).. And now that I'm in Jakarta, I realize that I feel like a fish out of water here. Like today, I just returned a bunch of clothes to one of a famous clothing line in Jakarta. There was a big sale there, and of course, there were a bunch of people panicking over the stuff they wanted to get. And then, I went to an event where the MC closed the show by saying, "Don't forget to shop because you can get the 20% discount on today only!"
I mean, I don't know... for me, the people here are just too consumptive. The word 'DISCOUNT' is like an oasis for them. And this environment.... is just not where I belong.
I am dreaming of living in Bali... together with my own little family where we can see the vast ocean, hear the sound of the waves, breathe the fresh air, and go out refreshing without having to pay for anything (in Jakarta, if we go out, we have to pay for something. In Bali, if we go out, we can go straight to the beach. That way, we don't have to spend some money every time we go, you know what I mean?)
But there's still just some things I have to do in Jakarta. So, hopefully, soon enough, I'll be able to make my dream of living in Bali comes true. Because, I just need to have that balance between work and refreshing. Balance between socializing with people and, in the same time, admiring the mother earth that God created. I just need to feel sane. And so far, I think I found those feeling in Bali.
Let's see if I can really make my dream comes true! Wish me luck! :)
Regards,
Risty
Anyway, all those stress now are gone, because not only the deadline has passed, but also because I just had the best vacation ever!! So, a couple of months ago, I was really stressed out with all the work, and all the traffic in Jakarta, and everything. And I don't know why, I feel that I miss Bali so much... and my sister who lives in Bali, of course.
So, without thinking twice, I booked a plane to have a four-day holiday in Bali... and I'd never regret that decision.
We started our first day by watching the sunset from a pool at The Stones, Kuta. This is the kind of pool that I usually see on TV. That I'd never thought I'd be able to swim in in my life. You know, the kind of pool where we can see the ocean from the edge of it. It was one of the most awesome place to enjoy the sunset... And most importantly, that moment was so much fun because I got to spend it with two of my best friends: my sister and my cousin. :)
The second day, my cousin and I spent a great time at Bedugul, riding a speedboat. My sister couldn't join us because she had to prepare for her high school's prom night... But that day... It was another experience. The lake is so vast, and just by looking down the water from the boat, I can feel that it's very deep. I was kind of hoping a Lochness showed up! Haha... But, that's gotta be quite scary, rite?
But as we rode on the speedboat, I could see the mist covering the mountain in front of us. It was very mystical, I felt like I was one of the students on a boat in the Harry Potter movie, coming to Hogwarts... (Okay, I'm a Harry Potter freak ;p)
Enough with the speedboat. We took a walk around the lake, and though there were a lot of tourists around us, children running around here and there, we just sat on a bench, didn't care with the world that was revolving around us. We sat and enjoyed the chill breeze, with Mandy Moore's Merrimack River played from the iPod. What a peaceful moment...
But, nothing more peaceful than the next day. We went to Amed, to go snorkelling. But it wasn't the snorkelling that 'wow'-ed us. It was the restaurant we ate for lunch and the cafe where we had our dessert. It was located right the edge of a cliff, and from there, we can see the vast ocean. And no one was there except the three of us (and the servants, of course). Enjoying ice cream with the ocean in front of us, and the sound of the wave, and the breeze of the wind.... I'd trade anything to feel that moment again. It's something that I'd surely treasure. That memory would be some kind of a medicine to cure my stress in Jakarta. I even took a picture of the ocean, and made it as the wallpaper on my cellphone, just to remind me that those moments weren't just a dream.
To be honest, I've never been in love with a place like this. I even was in tear at the airport. I wasn't sad with the fact that I had to say goodbye to my sister.... I was sad to leave Bali. People say that Bali is now overexposed... But I don't know why and what... I just feel there's something different with the island. Something so peaceful, that I didn't find anywhere else (not that I've been to a lot of places in Indonesia ;p)
In Bali, I felt that I found the balance I've been looking for. A balance that I didn't find in Jakarta. I could hear the voice in my heart clearly. I felt so peaceful. I felt... SANE!
If I could, I wanna hold Bali so tight in my arms (okay, this is hyperbole ;p).. And now that I'm in Jakarta, I realize that I feel like a fish out of water here. Like today, I just returned a bunch of clothes to one of a famous clothing line in Jakarta. There was a big sale there, and of course, there were a bunch of people panicking over the stuff they wanted to get. And then, I went to an event where the MC closed the show by saying, "Don't forget to shop because you can get the 20% discount on today only!"
I mean, I don't know... for me, the people here are just too consumptive. The word 'DISCOUNT' is like an oasis for them. And this environment.... is just not where I belong.
I am dreaming of living in Bali... together with my own little family where we can see the vast ocean, hear the sound of the waves, breathe the fresh air, and go out refreshing without having to pay for anything (in Jakarta, if we go out, we have to pay for something. In Bali, if we go out, we can go straight to the beach. That way, we don't have to spend some money every time we go, you know what I mean?)
But there's still just some things I have to do in Jakarta. So, hopefully, soon enough, I'll be able to make my dream of living in Bali comes true. Because, I just need to have that balance between work and refreshing. Balance between socializing with people and, in the same time, admiring the mother earth that God created. I just need to feel sane. And so far, I think I found those feeling in Bali.
Let's see if I can really make my dream comes true! Wish me luck! :)
Regards,
Risty
Monday, April 25, 2011
Bercanda Dengan Alam
Tepatnya minggu lalu, saya baru saja mengalami sebuah pengalaman istimewa. Pengalaman yang mengingatkan saya kembali akan hal-hal yang saya sukai saat SMA. Pengalaman yang membuat saya menyadari apa yang saya cari dan saya inginkan di dunia ini.
TanaKita, Sukabumi. Sebenarnya, saya melakukan trip ini murni untuk menjalankan tugas liputan yang diberikan oleh atasan. Bahkan, awalnya, saya agak malas ikut. Soalnya, camping. Dan saya kurang suka camping. Kebayang harus tidur di tengah udara dingin, di atas tanah yang juga dingin hanya dengan tikar dan sleeping bag, seperti masa-masa Persami. Yup, harus diakui, Persami yang dilakukan saat SD dan SMP dulu tidak membekaskan memori yang indah. Bahkan, menjadi sebuah momok yang tidak ingin diulangi lagi.
Tapi ternyata, camping yang satu ini berbeda. Kita tidak perlu capek-capek mendirikan tenda, karena semua sudah disiapkan. Bahkan, bagian dalam tenda pun sedikit ditinggikan, sehingga kasur yang tersedia di dalamnya tidak langsung rata tanah. Dan di atas kasur, sudah ada bantal dan sleeping bag. Kamar mandinya juga bagus. Kalau hotel ada bintang lima, maka tempat camping yang satu ini saya sebut sebagai camping bintang lima. Belum lagi makanannya yang enak-enak, dari mulai sarapan, makan siang, makan malam, hingga kambing guling dan jagung bakar saat api unggun.
Tapi, yang paling seru, tentu saja games-gamesnya. Di hari pertama tiba, para media yang ikut langsung dibagi menjadi beberapa kelompok. Ini juga menjadi kesempatan kita untuk saling kenalan (baca: memperluas koneksi). Rintangan demi rintangan games dilalui dengan fun, termasuk saat hiking. (Note: jangan pake sepatu lama, otherwise, solnya bisa lepas... seperti yang terjadi pada saya. Yup, I don't know why, tapi sepertinya kesialan selalu saja terjadi setiap kali saya bepergian).
Tapi, tak ada yang bisa menandingi kebahagiaan saya selain kegiatan yang dilakukan di hari kedua. Inilah kegiatan yang saya bilang mengingatkan saya akan masa-masa SMA dulu. Sebuah kegiatan yang seakan menyiram otak saya, dan membuat hati saya berteriak, "This is who I am!". Kegiatan itu bernama TUBING.
Tubing adalah sebuah permainan di mana kita berbaring di atas ban, dan biarkan ban itu mengalir mengikuti arus sungai. Tepatnya, sungai Cigunung (foto di atas). Jadi, bayangkan saja seperti berbaring di atas ban di dalam kolam arus, tapi ini a real-life kolam arus... dengan jeram di sana-sini, yang membuat kita mengalir turun dan turun... dan kalau jeramnya kuat, bisa-bisa terjungkal kebalik.
Bisa dibilang, ini seperti arung jeram mini. Kalau arung jeram kita naik boat beramai-ramai, ini satu orang satu ban. Jadi, kalau orang yang udah duluan turun di depan kita nggak tiba-tiba nyangkut di batu (airnya dangkal, jadi ban sering nyangkut), dan orang di belakang kita belum kelihatan batang hidungnya, we are literally alone in the middle of the river. Sendirian, mengikuti arus sungai yang unpredictable derasnya.
Ngeri? Nggak juga. Justru di saat sendirian itulah saya merasakan sebuah perasaan yang lama hilang. Saat itulah hati saya berteriak, "This is who I am! This is what I love!". Sendiri, hanya dikelilingi oleh alam... sungai yang mengalir, bebatuan di kanan-kiri, dan pepohonan di tepinya... Mungkin gila, tapi saya merasa saat itu alam sedang mengajak saya bermain. Saya pun memasrahkan nasib saya (baca: pasrah jika nyangkut di batu atau terbalik karena jeram yang deras) kepada alam. Saya merasa mereka tersenyum kepada saya, senang 'menemukan teman bermain'. Air yang dingin pun dalam sekejap menjadi sahabat. Dinginnya tak terlalu menusuk seperti saat pertama kali menceburkan kaki ke dalam sungai.
Benar-benar sebuah pengalaman istimewa. Dan harus dicoba oleh orang-orang yang senang berdekatan dengan alam.
Memori indah dari tempat ini bukan hanya permainannya yang fun, tapi juga pemandangannya yang... Wow... Bahkan, ketika mata baru saja melek dari tidur, jangan bermalas-malasan keluar dari tenda, karena pagi kita akan langsung disambut oleh...
Nice, huh? Kalau tertarik, mungkin bisa langsung aja klik di http://www.rakataadventure.com/tanakita.html
I was lucky karena saya bisa ke sini gratis (itulah salah satu keuntungan media.. hahahaa)... Tapi untuk yang mau menyisihkan uang demi mendapatkan kesegaran alam... TanaKita is worth the experience... :)
Selamat mencoba!
Regards,
Risty
Wednesday, April 20, 2011
Why Me? ((try to) stop this question)
It's been a while since my last post.. Well, I was catching up some deadlines... And then I was sick because I was too tired working. Not to mention I had to go camping in Sukabumi with a runny nose. But it was a great trip, anyway. I'll talk about it later.
But for now, I wanna share about something. Well, first, let me ask you a question. How many of you are getting tired with whatever you are facing in your life right now? And how many times do you ask to God, 'why me' or 'why is this happening to me'?
To be honest, those questions are swimming in my mind every now and then... But everytime they cross my mind, somewhere in the back of my... I don't know, conscience, maybe... I can hear a voice of a lady, saying things that - she may not realized this - light up my spirit.
This lady is actually one of the people I interviewed. I'm not gonna say her real name. Let's just say her name is Lily.
That day, I was actually going to interview her daughter. But when I arrived, her daughter wasn't home yet. So, I got to talk with Lily... and she told me everything..... literally evvverything about what's been happening in her family...
Long story short, her husband was having an affair while her daughter was in jail. She walked me through the whole story, with tears coming down her cheek. Even I wanted to cry too, but I knew it wasn't professional...
Listening to all the ups and downs she's gone through, I knew I would think 'Why is this happening to me?' if I were in her shoes. And I asked her that very question. "Have you ever asked God, why me? Why is this happening to me?" I said, bluntly.
To my surprise, she shaked her head...
"Who am I to say that kind of question?" she said, her watery eyes looking right into my eyes. And her following explanation made me feel even more like a fool for asking her that question. She's a Catholic, and so she said (she actually gave me a long explanation, but I'm just going to share her point),
"Jesus has gone a lot more suffering than I did... than we all did. And I'm nobody in front of God. I'm no one. I'm just His one tiny creature. So, if God gives me a hard time, does it mean I have the right to ask Him why? NO. I don't even dare to think about it, because I'm just an ordinary person. What I have gone through is NOTHING to compare with what Jesus has gone through. So really. God just gives me a little bit of a hard time, and I'm asking Him why He gave me all this? No, I have no right to ask that question."
I was stunned. And as a moslem, I adapted her analogy with my belief, Nabi Muhammad SAW. Even the messenger of Allah SWT, the one who was 'pointed' to spread His messages to the world, has gone through a lot of hard time in his life... Most of his life, to be precised...
So, I think Lily was right. If we are going through a difficult time in our lives, try not to ask God, 'why is this happening to me?' I know it's hard, because we are just ordinary people with a lot of (negative) thoughts... But at least, we can try... Everytime that particular question cross your mind, try to remember this piece I wrote. Try to remember what Lily told me, we are just tiny creatures, and we have no right to ask the Almighty that question. That even His messengers' lives weren't all heaven on earth.
I hope this writing would be useful for you... And believe me, this article goes for myself too... :)
Good luck!! :)
But for now, I wanna share about something. Well, first, let me ask you a question. How many of you are getting tired with whatever you are facing in your life right now? And how many times do you ask to God, 'why me' or 'why is this happening to me'?
To be honest, those questions are swimming in my mind every now and then... But everytime they cross my mind, somewhere in the back of my... I don't know, conscience, maybe... I can hear a voice of a lady, saying things that - she may not realized this - light up my spirit.
This lady is actually one of the people I interviewed. I'm not gonna say her real name. Let's just say her name is Lily.
That day, I was actually going to interview her daughter. But when I arrived, her daughter wasn't home yet. So, I got to talk with Lily... and she told me everything..... literally evvverything about what's been happening in her family...
Long story short, her husband was having an affair while her daughter was in jail. She walked me through the whole story, with tears coming down her cheek. Even I wanted to cry too, but I knew it wasn't professional...
Listening to all the ups and downs she's gone through, I knew I would think 'Why is this happening to me?' if I were in her shoes. And I asked her that very question. "Have you ever asked God, why me? Why is this happening to me?" I said, bluntly.
To my surprise, she shaked her head...
"Who am I to say that kind of question?" she said, her watery eyes looking right into my eyes. And her following explanation made me feel even more like a fool for asking her that question. She's a Catholic, and so she said (she actually gave me a long explanation, but I'm just going to share her point),
"Jesus has gone a lot more suffering than I did... than we all did. And I'm nobody in front of God. I'm no one. I'm just His one tiny creature. So, if God gives me a hard time, does it mean I have the right to ask Him why? NO. I don't even dare to think about it, because I'm just an ordinary person. What I have gone through is NOTHING to compare with what Jesus has gone through. So really. God just gives me a little bit of a hard time, and I'm asking Him why He gave me all this? No, I have no right to ask that question."
I was stunned. And as a moslem, I adapted her analogy with my belief, Nabi Muhammad SAW. Even the messenger of Allah SWT, the one who was 'pointed' to spread His messages to the world, has gone through a lot of hard time in his life... Most of his life, to be precised...
So, I think Lily was right. If we are going through a difficult time in our lives, try not to ask God, 'why is this happening to me?' I know it's hard, because we are just ordinary people with a lot of (negative) thoughts... But at least, we can try... Everytime that particular question cross your mind, try to remember this piece I wrote. Try to remember what Lily told me, we are just tiny creatures, and we have no right to ask the Almighty that question. That even His messengers' lives weren't all heaven on earth.
I hope this writing would be useful for you... And believe me, this article goes for myself too... :)
Good luck!! :)
Thursday, March 17, 2011
Love and Life
A lot of people - especially the singles - usually have some criteria or standard that they hope to find in their future mates. But for me, we need to know what life is, so we know what kind of friend we need in our lives.
And I think...
Life is a jungle. And so, we need a partner to show us the way. To protect us from the enemies that are lurking in the darkness.
Life is a battlefield. So, we need a friend to watch our back. To discuss every strategy for us to win the battle.
But most importantly...
Life is a roller coaster. We need our better half to calm us down as we go too high. To hold our hand as we go too fast. To share all the laughter, and just have fun with all the crazy ups and downs that life puts us through.
Regards,
Risty
And I think...
Life is a jungle. And so, we need a partner to show us the way. To protect us from the enemies that are lurking in the darkness.
Life is a battlefield. So, we need a friend to watch our back. To discuss every strategy for us to win the battle.
But most importantly...
Life is a roller coaster. We need our better half to calm us down as we go too high. To hold our hand as we go too fast. To share all the laughter, and just have fun with all the crazy ups and downs that life puts us through.
Regards,
Risty
Sunday, March 13, 2011
First Book Out!
Hey, all!!
Buku pertamaku udah keluar nih. Tentang sekelompok cewek remaja yang tinggal di asrama. Mereka punya diary tempat mereka curhat-curhatan. Ditunggu saran, kritik, dan masukannya. Kalo mo cerita2 tentang masa SMA kalian, silakan leave a comment di bawah ini. I'd be happy to hear it!!
Enjoy!
Regards,
Risty Nurraisa
Friday, March 11, 2011
Kisah Sopir Berseragam Biru
March 12th, 2011
The following article has actually been published on my Facebook account. But this is one of the experiences that I treasure the most in my life, and so, I'd like to share it again with you on my blog.
The following article has actually been published on my Facebook account. But this is one of the experiences that I treasure the most in my life, and so, I'd like to share it again with you on my blog.
*
Every man has a story. We just need to listen carefully.
Jarang-jarang saya merasa perlu menuliskan salah satu kisah yang saya alami sendiri. Tapi pengalaman saya dengan pak sopir di salah satu taksi berwarna biru di Jakarta yang saya tumpangi kemarin, rasanya patut saya bagi kepada teman-teman (eits, jangan pikir macam-macam dulu... ;p)
Tepatnya pada hari Sabtu, 5 Juni 2010 pukul 16.00, saya meminta pembantu lelaki saya untuk mencarikan taksi. Saya harus pergi ke salah satu mal yang terletak di pusat kota untuk keperluan kantor (lebih tepatnya, liputan untuk majalah tempat saya bekerja). Acaranya dimulai jam 5, dan mengingat jarak yang cukup jauh antara mal tersebut dengan rumah saya, rasanya lebih cepat mendapatkan taksi yang dicegat di jalan ketimbang pesan lewat telepon (lagi pula, entah kenapa, hari itu telepon perusahaan taksi tersebut bicara melulu).
Pukul setengah lima kurang, pembantu saya mengatakan bahwa taksi sudah datang. Karena saya belum selesai bersiap-siap, kontan, saya meminta pembantu saya untuk menyuruh si sopir menunggu sebentar. Saya pun segera mempercepat tangan saya bersiap-siap, shalat sebentar, lalu langsung turun dan pamit kepada ibu saya yang kebetulan sedang ada tamu. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah lima lebih, dan saya sudah yakin akan telat menghadiri acara itu. Apalagi semua orang bilang Jakarta lagi macet.
Dengan buru-buru pamit dari ibu dan tamunya, saya langsung melangkah ringan ke dalam taksi. Sopirnya ternyata sudah duduk di dalamnya. Tubuhnya cukup besar, kulitnya putih, dan usianya mungkin sekitar 50-60 tahun. Saya duduk manis di sebelah kiri bagian penumpang, dan menyebutkan tujuan saya.
Taksi saya bahkan belum meninggalkan rumah ketika pak sopir tiba-tiba menanyakan, “Mbak, itu pembantunya dari mana? Masa argo aja gak tau.”
Jujur, saat itu saya sangat malas untuk berbincang-bincang. Saya hanya tertawa kecil saja sambil sibuk menuliskan data di voucher yang diberikan kantor untuk pembayaran taksi nanti.
Ternyata, si pak sopir belum selesai. “Iya, kan saya disuruh nunggu. Saya tanya, ibu masih lama, nggak? Kira-kira argonya musti dinyalain nggak,” lanjutnya. “Pembantunya malah balik nanya, ‘Argo itu apa ya? Argo itu kayak apa sih?’” Si pak sopir tertawa. “Masa argo aja nggak tahu, ya? Terus, dia (pembantu saya) malah bilang, ‘Ntar aja kalo ibunya udah dateng, baru tanya musti nyalain argo apa nggak.’ Walah! Ya kalo penumpangnya udah dateng mah emang musti nyalain argo!”
Saya hanya tertawa-tawa saja mendengarnya. Pembantu saya itu memang agak bloon, tapi saya juga sedang malas berbicara panjang-lebar.
Si pak sopir tapi tetap terus mengoceh. “Masa orang Jakarta nggak tahu argo? Apa baru di Jakarta apa gimana?”
Sebenarnya pembantu saya itu sudah cukup lama bekerja di rumah saya. Tapi demi mempersingkat pembicaraan, sambil tertawa, saya hanya mengatakan, “Ya, dia memang masih baru.”
Si pak sopir kembali mengulang-ulang keheranannya terhadap pembantu saya yang tidak tahu argo sambil tertawa-tawa. Saya juga tertawa-tawa saja, berpikir bahwa akhirnya pembicaraan sudah selesai. Saya memang bukan orang yang senang berbasa-basi, apalagi dengan orang asing. Ditambah pula, badan saya cukup lelah karena minggu ini adalah minggu pertama saya bekerja di kantor baru. Saya hanya ingin duduk diam dengan tenang saja di taksi.
Rupanya, si pak sopir sedang in the mood to talk. “Saya tadi lagi jalan mau pulang. Tiba-tiba pembantunya nyegat saya.” Dan si pak sopir itu terus mengoceh mengatakan bahwa dia tadinya ingin segera pulang untuk bergantian dengan anaknya. Mungkin dia sempat mengatakan bahwa istrinya sakit. Mungkin juga dia sudah menyebutkan di mana istrinya dirawat. Entahlah. Saya tidak terlalu memperhatikan karena otak saya terlalu lelah untuk mendengarkan ocehannya saat itu. Saya hanya diam saja, berpura-pura mendengarkan.
Tapi, telinga saya terbuka ketika mendengar sang sopir dengan pelan mengatakan, “Dia susah makan. Beratnya turun dari 50-an jadi 29,5.”
“Sakit apa, Pak?” saya langsung bertanya.
“Kanker paru-paru.”
Wah. Penyakit yang sama yang menyerang ayah saya. “Stadium berapa?” tanya saya lagi.
“Itu pas ketauannya udah stadium 3. Sekarang dia gak bisa makan. Makan cuma seruput-seruput aja. Dua-tiga suap, itu juga dalam beberapa jam.” Dia menggeleng-gelengkan kepala.
Dari tempat saya duduk, saya dapat melihat wajah pak sopir terlihat sedih. “Emang kalo sakit gitu jadi nggak enak makan, ya, Pak,” kata saya, teringat akan betapa sulitnya menyuapi Papa di masa-masa sakitnya.
“Mending kalo nggak enak makan. Ini susah. Tenggorokannya itu lho, sakit banget katanya,” lanjut pak sopir.
Dan si pak sopir pun lanjut bercerita tentang rasa kasihannya kepada anak-anaknya yang masih kecil. Anaknya tiga. Yang pertama sudah dipingit oleh kakeknya di kampung, menemani si kakek yang sudah ditinggal oleh si nenek. “Saya kan anak tunggal, Mbak. Jadi kasihan si kakek itu sendirian di sana,” kata si pak sopir. Yang dua lagi? “Masih kecil-kecil. Saya kasihan sama anak-anak saya. Yang satu masih SMP. Yang satu masih kecil.” Anaknya yang SMP-lah yang sedang menunggu si ibu di rumah sakit saat itu. Dengan anaknya yang masih SMP itulah, si bapak ini ingin bertukar tempat menjaga sang ibu, namun tidak jadi karena pembantu saya mencegatnya. Saya jadi merasa bersalah.
“Untuk pengobatannya gimana? Di kemo-kemo gitu?” tanya saya, mengingat satu-satunya pengobatan yang paling sering digunakan untuk kanker adalah kemoterapi.
“Iya, dikemo.”
“Mungkin tenggorokannya sakit karena efek kemo.” Saya lalu menjelaskan sedikit bahwa efek-efek kemo itu bisa terjadi di bagian tubuh mana saja. Saya tahu hal ini dari pasien-pasien lain yang juga dikemo saat ayah saya mendapatkan pengobatan itu.
Pak sopir hanya mengangguk-angguk sambil mengatakan, “Ya, mungkin saja.”
Taksi terus melaju. Dan pembicaraan seputar kemoterapi kini berlanjut menjadi biaya untuk pengobatan itu. Ya, memang kemoterapi itu bukan perawatan murah.
“Tapi, itu dia. Saya bingung... Bingung banget ini gimana untuk ngobatinnya,” jawab si pak sopir. Dari suaranya terdengar jelas ia bingung. “Kanker itu kan penyakit konglomerat.”
Bukankah bagi orang yang nggak mampu bisa mendapatkan surat keterangan dari RT sehingga mereka diberi keringanan, atau bahkan gratis? Setahu saya begitu. Saya tanyakan hal itu kepada pak sopir.
“Yang ngeluarin surat itu dari walikota, Mbak, bukan RT,” jelas si sopir. “ Dan semuanya ada jenjangnya. Kalau untuk yang gratis, biasanya dikasih ke yang pengangguran, atau janda. Saya karena dihitung ada penghasilan, hanya diberi diskon 40% dari total biaya pengobatan.”
“Emang total semuanya berapa, Pak?” tanya saya.
“25 juta untuk 6 kali kemoterapi.”
Wow. Saya jadi teringat saat sulitnya mencari dana untuk mengobati Papa. Konglomerat atau bukan, rasanya simpanan uang semua orang akan terkuras habis jika salah satu anggota keluarganya terserang kanker.
“Atau,” lanjut si pak sopir. “Yang gratis itu biasanya dikasih ke yang terserang penyakit menular. Kayak malaria, gitu. Itu sampai kamar perawatannya pun dikasih gratis. Kalo kanker kan penyakit perorangan.”
What?! Jujur, menurut saya itu tidak adil. Menular atau tidak, kanker sama berbahayanya dengan penyakit menular yang mematikan. Dan orang kurang mampu yang terserang kanker pun seharusnya bisa mendapatkan kesempatan yang sama besarnya untuk sembuh seperti orang-orang yang mampu membayar lebih demi pengobatannya. Rasanya tidak adil jika si pak sopir ini tidak bisa memberikan pengobatan maksimal kepada istrinya hanya karena posisinya terjepit: si pak sopir bukan pengangguran, dan penyakit si istri bukan penyakit menular.
Tapi, saya hanya mengulum bibir, tidak tega menyampaikan pendapat saya itu. Di situasi yang sedang kalut itu, si pak sopir hanya butuh telinga yang mendengarkan, dan bukan bibir yang bisa menyulut marahnya kepada pihak lain. Dan setelah itu, si pak sopir pun memberi saya ilmu tambahan mengenai peraturan pemberian pengobatan gratis kepada orang yang kurang mampu. Ia menjelaskan bahwa pengobatan gratis bisa pula diberikan dari RT atau camat, tapi yang bersangkutan harus diobati di rumah sakit atau puskesmas di daerah mereka. Kanker bukan penyakit yang bisa disembuhkan di rumah sakit kecil, bukan? Istri pak sopir itu dirawat di salah satu rumah sakit besar di bilangan Kuningan, Jakarta.
Taksi itu kini melaju di daerah Senayan. Aneh. Semua orang mengatakan Jakarta macet. Tapi, saya tidak merasakan macet sedikit pun dalam perjalanan saya selain di lampu merah.
“Berapa lama sakitnya, Pak?” akhirnya saya bertanya. Saya sudahi melupakan rasa malas saya untuk berbincang-bincang.
“Kena vonisnya 4 bulan,” jawabnya. “Dirawat di rumah sakitnya 4 hari.”
Dan akhirnya pun, saya menceritakan bahwa ayah saya juga sakit kanker. Pak sopir kaget ketika saya mengatakan bahwa pertama kali divonis, ayah saya langsung dinyatakan stadium 4.
“Ayah saya juga sempet dikemo,” kata saya.
“Sempat dikemo berapa kali?” tanyanya.
“Enam kali,” jawab saya. “Tapi kemo kan sakit. Akhirnya kita pindah ke alternatif.”
Mendengar kata alternatif, pak sopir langsung kembali berceloteh, seakan-akan ia begitu alergi terhadap kata itu. “Ah! Alternatif! Saya udah gak percaya lagi sama alternatif. Istri saya itu makin parah karena dulunya ke alternatif. Itu kan obat-obatan mereka, kita nggak tahu apa isinya.”
Yah, saya sempat menjelaskan sebentar bahwa alternatif yang dipilih ayah saya tidak menggunakan obat. Hanya dengan totok ala sinsei saja. Tapi, mendengar pak sopir sepertinya sudah sangat alergi dengan alternatif, saya rasa saya tidak perlu memancing emosinya lebih jauh dengan menjelaskan bahwa alternatif yang dijalankan oleh Papa dilakukan oleh seseorang yang belajar tentang anatomi tubuh langsung di Shaolin, Tibet, selama 20 tahun.
“Alternatif itu... Saya heran. Mereka tuh kayak cari untung dari orang-orang yang lagi panik kayak kita ini. Lihat aja, untuk bayar iklan di TV aja udah berapa tuh?” lanjutnya dengan gusar.
*Note: kepada yang berkecimpung di dunia alternatif, mohon jangan diambil hati. Saya tahu tidak semua alternatif seburuk yang dikatakan pak sopir ini. Pendapat di atas murni diutarakan oleh seseorang yang pernah dikecewakan oleh sebuah pengobatan alternatif, dan dalam keadaan sulit seperti itu, saya rasa wajar jika akhirnya dia memukul rata penilaiannya terhadap dunia alternatif. Lagi pula, semua orang berhak memiliki pendapat masing-masing, kan? :)*
Setelah kembali menenangkan diri, si pak sopir pun bertanya, “Terus, bapaknya sekarang gimana? Sehat?”
Saya ragu-ragu menjawabnya. Bukan, bukan karena berat untuk mengatakan bahwa ayah saya sudah tiada. Saya sudah terbiasa dengan hal itu. Tapi, saya justru takut jawaban saya akan berimbas pada emosi pak sopir.
Namun, karena dia sudah bertanya, dengan pelan, saya menjawab, “Ayah saya udah pergi.”
“Nah, itu yang saya takut,” katanya dengan suara pelan. Nah, benar kan dugaan saya?
Di tengah perjalanan yang cukup lancar itu, akhirnya si pak sopir pun bertanya-tanya sedikit tentang penyakit ayah saya. Berapa lama sakitnya, kapan Papa pergi (untungnya si pak sopir tetap tidak tahu siapa ayah saya... ;p ).
Dan hati saya semakin terenyuh ketika pak sopir kembali menceritakan pengalamannya. “Waktu pertama kali denger vonis dokter itu,” katanya. “Dokter bilang, saya yang harus jelaskan ke istri saya pelan-pelan karena ini serius.” Dan setelah itu, sang dokter memberitahukan pak sopir bahwa istri pak sopir terserang kanker paru-paru stadium tiga. “Saya cuma bisa bengong. Setengah bulan nggak bisa kerja, cuma bengong aja. Mikir, gimana ini,” katanya, lirih. “Rasanya seperti disambar petir.”
Ia merentangkan tangannya ke atas. Mungkin berusaha menenangkan diri.
“Istri bapak memang ada keturunan kanker?” tanya saya. Rasa penasaran sudah tidak bisa dikuasai lagi.
“Nggak,” jawab si bapak. “Katanya, penyebab kankernya itu karena pikiran. Stres.”
Ya. Memang, Stres adalah musuh pertama manusia yang bisa menyebabkan kanker. Kebanyakan penderita kanker terserang penyakit itu karena stres, karena menyimpan perasaan dan masalahnya sendiri. Ayah saya begitu. Dan beberapa kenalan saya juga begitu.
Kami sudah semakin dekat dengan tempat tujuan. Gedung mal itu sudah terlihat, namun air mata saya bahkan semakin mengambang ketika pak sopir itu melanjutkan ceritanya. Bahwa istrinya tidak bisa jalan karena tubuhnya terlalu kurus. Bahwa istrinya sudah sering mengatakan ingin bunuh diri saja.
“Ya,” kata saya pelan. “Memang, untuk pasien kanker, yang harus dijaga adalah semangatnya.” Saya masih ingat betul ketika saya dan keluarga plus perawat Papa terus menyemangati Papa sementara Papa meronta-ronta kesakitan. “Tapi, susahnya, kan kita nggak tahu sakitnya gimana. Pernah tuh waktu itu, ibu saya nyemangatin Papa, Papa malah bilang, ‘Kamu kan nggak tahu sakitnya kayak apa!’”
Si pak sopir tertawa mendengar cerita itu. Jujur, ada sebersit rasa lega karena bisa membuat seseorang yang sedang dilanda panik tiba-tiba tertawa di tengah topik pembicaraan yang tidak bisa dibilang ringan itu.
Kami sudah hampir sampai, dan hati manusiawi saya terketuk untuk memberi sedikit bantuan kepada pak sopir. Tapi, saya juga mau tidak munafik. Mengingat berbagai macam akal bulus penjahat di Indonesia, benak saya sempat mempertanyakan apakah jangan-jangan semua ini akal-akalannya si pak sopir saja biar dapat uang?
Tapi, saya enyahkan pikiran itu. Pak sopir ini bercerita dengan sangat rinci. Tentang istrinya. Tentang anak-anaknya. Tentang perasaannya. Bahkan, sampai tentang jaminan kesehatan yang tidak bisa gratis untuk istrinya. Dan tentang kanker. Saya tahu, hanya orang-orang yang pernah mengalami saja yang bisa menceritakan secara detail betapa dunia seakan terbalik ketika salah seorang anggota keluarga kita tervonis kanker. Cerita itu tidak bisa dibuat-buat, apalagi sampai mengisi perjalanan selama 20 menit dari Cipete-Thamrin.
Dan bukan bermaksud pamer, tapi saya merasa harus menceritakan bagian terakhir dari perbincangan saya dengan pak sopir agar teman-teman tahu mengapa saya yakin si pak sopir tidak mengarang ceritanya.
Kami tiba di lobi mal besar itu tepat pukul 5 sore. Setelah selesai menuliskan biaya taksi di lembar voucher, saya pun menyerahkan kertas berwarna biru itu kepada pak sopir. Dan setelah itu, tangan saya langsung memberikan selembar uang yang menurut saya tidak akan cukup untuk memenuhi satu kali biaya kemoterapi istrinya. Tapi hanya segitu yang bisa saya bantu.
“Ini untuk bapak,” kata saya sambil menyerahkan uang itu. “Mudah-mudahan bisa bantu.”
“Ha?!” si pak sopir terperanjat, terlihat jelas ia tidak menyangka akan tindakan saya. Matanya membelalak kaget. Tangannya belum menyentuh uang itu. “Aduh, Neng. Saya jadi nggak enak...”
Mungkin detik itu juga dia merasa nggak enak karena kesannya ia menumpahkan kisahnya untuk mendapatkan uang. Sama seperti pertanyaan saya beberapa detik sebelumnya.
“Nggak pa-pa, Pak,” kata saya sambil tersenyum dan terus memaksanya mengambil uang itu. “Saya juga pernah ngerasain, soalnya.”
Pak sopir pun menerima uang itu sambil mengucapkan terima kasih beberapa kali. Dan setelah pak sopir mengingatkan saya agar barang saya jangan ada yang tertinggal, saya melangkah keluar dari taksi itu, dan menutup pintu berwarna biru itu di belakang saya dengan hati pilu dan mata berkaca-kaca. Namun senyum menghiasi wajah saya, lega karena setidaknya bisa membantu biarpun sekadar meminjamkan telinga saja.
*
Hari itu, saya pulang malam karena melakukan liputan di dua tempat. Namun, selama melakukan peliputan dan kembali pulang ke rumah, pikiran saya masih melayang-layang memikirkan pembicaraan saya dengan pak sopir sore itu.
Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, kadang kita lupa bahwa setiap individu memiliki ceritanya masing-masing. Kita terlalu sibuk dan egois dan lelah untuk membuka mata, menajamkan telinga, dan memerhatikan mereka yang berada di sekitar kita. Bahkan, tidak jarang terjadi perkelahian karena kedua belah pihak mungkin lagi sama-sama stres dengan masalah masing-masing (yang ini bisa terjadi dengan orang asing atau bahkan dengan orang terdekat kita sendiri, kan?)
Coba pikir, berapa banyak penumpang yang mau berbincang-bincang dengan sopir taksi? Jangankan sopir taksi, kadang sopir pribadi pun tidak pernah disapa selama perjalanan karena kita sibuk mendengarkan musik atau dengan urusan kita melalui laptop dan handphone. Berapa banyak orang yang membalas senyum bellboy yang membuka pintu mal, atau mengucapkan terima kasih pada tukang parkir?
Siapa pun mereka, entah itu sopir, pelayan, tukang sapu jalan, bahkan PSK, perampok dan korbannya sekali pun, memiliki kisah hidup dan kesulitannya sendiri. Dan saya merasa bersalah karena sempat malas-malasan mendengarkan awal cerita si pak sopir taksi itu. Yang dia butuhkan hanyalah meluapkan perasaan kalutnya, perasaan takutnya. Dan kebetulan saja, saya pernah mengalami hal yang sama. Apa salahnya jika sekali itu saya melupakan rasa lelah, dan meminjamkan telinga untuk mendengarkan keluh kesahnya, hanya untuk 20 menit saja?
Ya, setiap individu membawa kisah sendiri di belakang mereka. Yang perlu kita lakukan adalah membuka telinga lebih lebar untuk mendengarkan kisah mereka agar kita mengerti.
Jakarta, 6 Juni 2010,
Risty Nurraisa
*Semoga kisah ini tidak menginspirasi modus baru bagi para pelaku kejahatan. Amin. :)*
Jarang-jarang saya merasa perlu menuliskan salah satu kisah yang saya alami sendiri. Tapi pengalaman saya dengan pak sopir di salah satu taksi berwarna biru di Jakarta yang saya tumpangi kemarin, rasanya patut saya bagi kepada teman-teman (eits, jangan pikir macam-macam dulu... ;p)
Tepatnya pada hari Sabtu, 5 Juni 2010 pukul 16.00, saya meminta pembantu lelaki saya untuk mencarikan taksi. Saya harus pergi ke salah satu mal yang terletak di pusat kota untuk keperluan kantor (lebih tepatnya, liputan untuk majalah tempat saya bekerja). Acaranya dimulai jam 5, dan mengingat jarak yang cukup jauh antara mal tersebut dengan rumah saya, rasanya lebih cepat mendapatkan taksi yang dicegat di jalan ketimbang pesan lewat telepon (lagi pula, entah kenapa, hari itu telepon perusahaan taksi tersebut bicara melulu).
Pukul setengah lima kurang, pembantu saya mengatakan bahwa taksi sudah datang. Karena saya belum selesai bersiap-siap, kontan, saya meminta pembantu saya untuk menyuruh si sopir menunggu sebentar. Saya pun segera mempercepat tangan saya bersiap-siap, shalat sebentar, lalu langsung turun dan pamit kepada ibu saya yang kebetulan sedang ada tamu. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah lima lebih, dan saya sudah yakin akan telat menghadiri acara itu. Apalagi semua orang bilang Jakarta lagi macet.
Dengan buru-buru pamit dari ibu dan tamunya, saya langsung melangkah ringan ke dalam taksi. Sopirnya ternyata sudah duduk di dalamnya. Tubuhnya cukup besar, kulitnya putih, dan usianya mungkin sekitar 50-60 tahun. Saya duduk manis di sebelah kiri bagian penumpang, dan menyebutkan tujuan saya.
Taksi saya bahkan belum meninggalkan rumah ketika pak sopir tiba-tiba menanyakan, “Mbak, itu pembantunya dari mana? Masa argo aja gak tau.”
Jujur, saat itu saya sangat malas untuk berbincang-bincang. Saya hanya tertawa kecil saja sambil sibuk menuliskan data di voucher yang diberikan kantor untuk pembayaran taksi nanti.
Ternyata, si pak sopir belum selesai. “Iya, kan saya disuruh nunggu. Saya tanya, ibu masih lama, nggak? Kira-kira argonya musti dinyalain nggak,” lanjutnya. “Pembantunya malah balik nanya, ‘Argo itu apa ya? Argo itu kayak apa sih?’” Si pak sopir tertawa. “Masa argo aja nggak tahu, ya? Terus, dia (pembantu saya) malah bilang, ‘Ntar aja kalo ibunya udah dateng, baru tanya musti nyalain argo apa nggak.’ Walah! Ya kalo penumpangnya udah dateng mah emang musti nyalain argo!”
Saya hanya tertawa-tawa saja mendengarnya. Pembantu saya itu memang agak bloon, tapi saya juga sedang malas berbicara panjang-lebar.
Si pak sopir tapi tetap terus mengoceh. “Masa orang Jakarta nggak tahu argo? Apa baru di Jakarta apa gimana?”
Sebenarnya pembantu saya itu sudah cukup lama bekerja di rumah saya. Tapi demi mempersingkat pembicaraan, sambil tertawa, saya hanya mengatakan, “Ya, dia memang masih baru.”
Si pak sopir kembali mengulang-ulang keheranannya terhadap pembantu saya yang tidak tahu argo sambil tertawa-tawa. Saya juga tertawa-tawa saja, berpikir bahwa akhirnya pembicaraan sudah selesai. Saya memang bukan orang yang senang berbasa-basi, apalagi dengan orang asing. Ditambah pula, badan saya cukup lelah karena minggu ini adalah minggu pertama saya bekerja di kantor baru. Saya hanya ingin duduk diam dengan tenang saja di taksi.
Rupanya, si pak sopir sedang in the mood to talk. “Saya tadi lagi jalan mau pulang. Tiba-tiba pembantunya nyegat saya.” Dan si pak sopir itu terus mengoceh mengatakan bahwa dia tadinya ingin segera pulang untuk bergantian dengan anaknya. Mungkin dia sempat mengatakan bahwa istrinya sakit. Mungkin juga dia sudah menyebutkan di mana istrinya dirawat. Entahlah. Saya tidak terlalu memperhatikan karena otak saya terlalu lelah untuk mendengarkan ocehannya saat itu. Saya hanya diam saja, berpura-pura mendengarkan.
Tapi, telinga saya terbuka ketika mendengar sang sopir dengan pelan mengatakan, “Dia susah makan. Beratnya turun dari 50-an jadi 29,5.”
“Sakit apa, Pak?” saya langsung bertanya.
“Kanker paru-paru.”
Wah. Penyakit yang sama yang menyerang ayah saya. “Stadium berapa?” tanya saya lagi.
“Itu pas ketauannya udah stadium 3. Sekarang dia gak bisa makan. Makan cuma seruput-seruput aja. Dua-tiga suap, itu juga dalam beberapa jam.” Dia menggeleng-gelengkan kepala.
Dari tempat saya duduk, saya dapat melihat wajah pak sopir terlihat sedih. “Emang kalo sakit gitu jadi nggak enak makan, ya, Pak,” kata saya, teringat akan betapa sulitnya menyuapi Papa di masa-masa sakitnya.
“Mending kalo nggak enak makan. Ini susah. Tenggorokannya itu lho, sakit banget katanya,” lanjut pak sopir.
Dan si pak sopir pun lanjut bercerita tentang rasa kasihannya kepada anak-anaknya yang masih kecil. Anaknya tiga. Yang pertama sudah dipingit oleh kakeknya di kampung, menemani si kakek yang sudah ditinggal oleh si nenek. “Saya kan anak tunggal, Mbak. Jadi kasihan si kakek itu sendirian di sana,” kata si pak sopir. Yang dua lagi? “Masih kecil-kecil. Saya kasihan sama anak-anak saya. Yang satu masih SMP. Yang satu masih kecil.” Anaknya yang SMP-lah yang sedang menunggu si ibu di rumah sakit saat itu. Dengan anaknya yang masih SMP itulah, si bapak ini ingin bertukar tempat menjaga sang ibu, namun tidak jadi karena pembantu saya mencegatnya. Saya jadi merasa bersalah.
“Untuk pengobatannya gimana? Di kemo-kemo gitu?” tanya saya, mengingat satu-satunya pengobatan yang paling sering digunakan untuk kanker adalah kemoterapi.
“Iya, dikemo.”
“Mungkin tenggorokannya sakit karena efek kemo.” Saya lalu menjelaskan sedikit bahwa efek-efek kemo itu bisa terjadi di bagian tubuh mana saja. Saya tahu hal ini dari pasien-pasien lain yang juga dikemo saat ayah saya mendapatkan pengobatan itu.
Pak sopir hanya mengangguk-angguk sambil mengatakan, “Ya, mungkin saja.”
Taksi terus melaju. Dan pembicaraan seputar kemoterapi kini berlanjut menjadi biaya untuk pengobatan itu. Ya, memang kemoterapi itu bukan perawatan murah.
“Tapi, itu dia. Saya bingung... Bingung banget ini gimana untuk ngobatinnya,” jawab si pak sopir. Dari suaranya terdengar jelas ia bingung. “Kanker itu kan penyakit konglomerat.”
Bukankah bagi orang yang nggak mampu bisa mendapatkan surat keterangan dari RT sehingga mereka diberi keringanan, atau bahkan gratis? Setahu saya begitu. Saya tanyakan hal itu kepada pak sopir.
“Yang ngeluarin surat itu dari walikota, Mbak, bukan RT,” jelas si sopir. “ Dan semuanya ada jenjangnya. Kalau untuk yang gratis, biasanya dikasih ke yang pengangguran, atau janda. Saya karena dihitung ada penghasilan, hanya diberi diskon 40% dari total biaya pengobatan.”
“Emang total semuanya berapa, Pak?” tanya saya.
“25 juta untuk 6 kali kemoterapi.”
Wow. Saya jadi teringat saat sulitnya mencari dana untuk mengobati Papa. Konglomerat atau bukan, rasanya simpanan uang semua orang akan terkuras habis jika salah satu anggota keluarganya terserang kanker.
“Atau,” lanjut si pak sopir. “Yang gratis itu biasanya dikasih ke yang terserang penyakit menular. Kayak malaria, gitu. Itu sampai kamar perawatannya pun dikasih gratis. Kalo kanker kan penyakit perorangan.”
What?! Jujur, menurut saya itu tidak adil. Menular atau tidak, kanker sama berbahayanya dengan penyakit menular yang mematikan. Dan orang kurang mampu yang terserang kanker pun seharusnya bisa mendapatkan kesempatan yang sama besarnya untuk sembuh seperti orang-orang yang mampu membayar lebih demi pengobatannya. Rasanya tidak adil jika si pak sopir ini tidak bisa memberikan pengobatan maksimal kepada istrinya hanya karena posisinya terjepit: si pak sopir bukan pengangguran, dan penyakit si istri bukan penyakit menular.
Tapi, saya hanya mengulum bibir, tidak tega menyampaikan pendapat saya itu. Di situasi yang sedang kalut itu, si pak sopir hanya butuh telinga yang mendengarkan, dan bukan bibir yang bisa menyulut marahnya kepada pihak lain. Dan setelah itu, si pak sopir pun memberi saya ilmu tambahan mengenai peraturan pemberian pengobatan gratis kepada orang yang kurang mampu. Ia menjelaskan bahwa pengobatan gratis bisa pula diberikan dari RT atau camat, tapi yang bersangkutan harus diobati di rumah sakit atau puskesmas di daerah mereka. Kanker bukan penyakit yang bisa disembuhkan di rumah sakit kecil, bukan? Istri pak sopir itu dirawat di salah satu rumah sakit besar di bilangan Kuningan, Jakarta.
Taksi itu kini melaju di daerah Senayan. Aneh. Semua orang mengatakan Jakarta macet. Tapi, saya tidak merasakan macet sedikit pun dalam perjalanan saya selain di lampu merah.
“Berapa lama sakitnya, Pak?” akhirnya saya bertanya. Saya sudahi melupakan rasa malas saya untuk berbincang-bincang.
“Kena vonisnya 4 bulan,” jawabnya. “Dirawat di rumah sakitnya 4 hari.”
Dan akhirnya pun, saya menceritakan bahwa ayah saya juga sakit kanker. Pak sopir kaget ketika saya mengatakan bahwa pertama kali divonis, ayah saya langsung dinyatakan stadium 4.
“Ayah saya juga sempet dikemo,” kata saya.
“Sempat dikemo berapa kali?” tanyanya.
“Enam kali,” jawab saya. “Tapi kemo kan sakit. Akhirnya kita pindah ke alternatif.”
Mendengar kata alternatif, pak sopir langsung kembali berceloteh, seakan-akan ia begitu alergi terhadap kata itu. “Ah! Alternatif! Saya udah gak percaya lagi sama alternatif. Istri saya itu makin parah karena dulunya ke alternatif. Itu kan obat-obatan mereka, kita nggak tahu apa isinya.”
Yah, saya sempat menjelaskan sebentar bahwa alternatif yang dipilih ayah saya tidak menggunakan obat. Hanya dengan totok ala sinsei saja. Tapi, mendengar pak sopir sepertinya sudah sangat alergi dengan alternatif, saya rasa saya tidak perlu memancing emosinya lebih jauh dengan menjelaskan bahwa alternatif yang dijalankan oleh Papa dilakukan oleh seseorang yang belajar tentang anatomi tubuh langsung di Shaolin, Tibet, selama 20 tahun.
“Alternatif itu... Saya heran. Mereka tuh kayak cari untung dari orang-orang yang lagi panik kayak kita ini. Lihat aja, untuk bayar iklan di TV aja udah berapa tuh?” lanjutnya dengan gusar.
*Note: kepada yang berkecimpung di dunia alternatif, mohon jangan diambil hati. Saya tahu tidak semua alternatif seburuk yang dikatakan pak sopir ini. Pendapat di atas murni diutarakan oleh seseorang yang pernah dikecewakan oleh sebuah pengobatan alternatif, dan dalam keadaan sulit seperti itu, saya rasa wajar jika akhirnya dia memukul rata penilaiannya terhadap dunia alternatif. Lagi pula, semua orang berhak memiliki pendapat masing-masing, kan? :)*
Setelah kembali menenangkan diri, si pak sopir pun bertanya, “Terus, bapaknya sekarang gimana? Sehat?”
Saya ragu-ragu menjawabnya. Bukan, bukan karena berat untuk mengatakan bahwa ayah saya sudah tiada. Saya sudah terbiasa dengan hal itu. Tapi, saya justru takut jawaban saya akan berimbas pada emosi pak sopir.
Namun, karena dia sudah bertanya, dengan pelan, saya menjawab, “Ayah saya udah pergi.”
“Nah, itu yang saya takut,” katanya dengan suara pelan. Nah, benar kan dugaan saya?
Di tengah perjalanan yang cukup lancar itu, akhirnya si pak sopir pun bertanya-tanya sedikit tentang penyakit ayah saya. Berapa lama sakitnya, kapan Papa pergi (untungnya si pak sopir tetap tidak tahu siapa ayah saya... ;p ).
Dan hati saya semakin terenyuh ketika pak sopir kembali menceritakan pengalamannya. “Waktu pertama kali denger vonis dokter itu,” katanya. “Dokter bilang, saya yang harus jelaskan ke istri saya pelan-pelan karena ini serius.” Dan setelah itu, sang dokter memberitahukan pak sopir bahwa istri pak sopir terserang kanker paru-paru stadium tiga. “Saya cuma bisa bengong. Setengah bulan nggak bisa kerja, cuma bengong aja. Mikir, gimana ini,” katanya, lirih. “Rasanya seperti disambar petir.”
Ia merentangkan tangannya ke atas. Mungkin berusaha menenangkan diri.
“Istri bapak memang ada keturunan kanker?” tanya saya. Rasa penasaran sudah tidak bisa dikuasai lagi.
“Nggak,” jawab si bapak. “Katanya, penyebab kankernya itu karena pikiran. Stres.”
Ya. Memang, Stres adalah musuh pertama manusia yang bisa menyebabkan kanker. Kebanyakan penderita kanker terserang penyakit itu karena stres, karena menyimpan perasaan dan masalahnya sendiri. Ayah saya begitu. Dan beberapa kenalan saya juga begitu.
Kami sudah semakin dekat dengan tempat tujuan. Gedung mal itu sudah terlihat, namun air mata saya bahkan semakin mengambang ketika pak sopir itu melanjutkan ceritanya. Bahwa istrinya tidak bisa jalan karena tubuhnya terlalu kurus. Bahwa istrinya sudah sering mengatakan ingin bunuh diri saja.
“Ya,” kata saya pelan. “Memang, untuk pasien kanker, yang harus dijaga adalah semangatnya.” Saya masih ingat betul ketika saya dan keluarga plus perawat Papa terus menyemangati Papa sementara Papa meronta-ronta kesakitan. “Tapi, susahnya, kan kita nggak tahu sakitnya gimana. Pernah tuh waktu itu, ibu saya nyemangatin Papa, Papa malah bilang, ‘Kamu kan nggak tahu sakitnya kayak apa!’”
Si pak sopir tertawa mendengar cerita itu. Jujur, ada sebersit rasa lega karena bisa membuat seseorang yang sedang dilanda panik tiba-tiba tertawa di tengah topik pembicaraan yang tidak bisa dibilang ringan itu.
Kami sudah hampir sampai, dan hati manusiawi saya terketuk untuk memberi sedikit bantuan kepada pak sopir. Tapi, saya juga mau tidak munafik. Mengingat berbagai macam akal bulus penjahat di Indonesia, benak saya sempat mempertanyakan apakah jangan-jangan semua ini akal-akalannya si pak sopir saja biar dapat uang?
Tapi, saya enyahkan pikiran itu. Pak sopir ini bercerita dengan sangat rinci. Tentang istrinya. Tentang anak-anaknya. Tentang perasaannya. Bahkan, sampai tentang jaminan kesehatan yang tidak bisa gratis untuk istrinya. Dan tentang kanker. Saya tahu, hanya orang-orang yang pernah mengalami saja yang bisa menceritakan secara detail betapa dunia seakan terbalik ketika salah seorang anggota keluarga kita tervonis kanker. Cerita itu tidak bisa dibuat-buat, apalagi sampai mengisi perjalanan selama 20 menit dari Cipete-Thamrin.
Dan bukan bermaksud pamer, tapi saya merasa harus menceritakan bagian terakhir dari perbincangan saya dengan pak sopir agar teman-teman tahu mengapa saya yakin si pak sopir tidak mengarang ceritanya.
Kami tiba di lobi mal besar itu tepat pukul 5 sore. Setelah selesai menuliskan biaya taksi di lembar voucher, saya pun menyerahkan kertas berwarna biru itu kepada pak sopir. Dan setelah itu, tangan saya langsung memberikan selembar uang yang menurut saya tidak akan cukup untuk memenuhi satu kali biaya kemoterapi istrinya. Tapi hanya segitu yang bisa saya bantu.
“Ini untuk bapak,” kata saya sambil menyerahkan uang itu. “Mudah-mudahan bisa bantu.”
“Ha?!” si pak sopir terperanjat, terlihat jelas ia tidak menyangka akan tindakan saya. Matanya membelalak kaget. Tangannya belum menyentuh uang itu. “Aduh, Neng. Saya jadi nggak enak...”
Mungkin detik itu juga dia merasa nggak enak karena kesannya ia menumpahkan kisahnya untuk mendapatkan uang. Sama seperti pertanyaan saya beberapa detik sebelumnya.
“Nggak pa-pa, Pak,” kata saya sambil tersenyum dan terus memaksanya mengambil uang itu. “Saya juga pernah ngerasain, soalnya.”
Pak sopir pun menerima uang itu sambil mengucapkan terima kasih beberapa kali. Dan setelah pak sopir mengingatkan saya agar barang saya jangan ada yang tertinggal, saya melangkah keluar dari taksi itu, dan menutup pintu berwarna biru itu di belakang saya dengan hati pilu dan mata berkaca-kaca. Namun senyum menghiasi wajah saya, lega karena setidaknya bisa membantu biarpun sekadar meminjamkan telinga saja.
*
Hari itu, saya pulang malam karena melakukan liputan di dua tempat. Namun, selama melakukan peliputan dan kembali pulang ke rumah, pikiran saya masih melayang-layang memikirkan pembicaraan saya dengan pak sopir sore itu.
Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, kadang kita lupa bahwa setiap individu memiliki ceritanya masing-masing. Kita terlalu sibuk dan egois dan lelah untuk membuka mata, menajamkan telinga, dan memerhatikan mereka yang berada di sekitar kita. Bahkan, tidak jarang terjadi perkelahian karena kedua belah pihak mungkin lagi sama-sama stres dengan masalah masing-masing (yang ini bisa terjadi dengan orang asing atau bahkan dengan orang terdekat kita sendiri, kan?)
Coba pikir, berapa banyak penumpang yang mau berbincang-bincang dengan sopir taksi? Jangankan sopir taksi, kadang sopir pribadi pun tidak pernah disapa selama perjalanan karena kita sibuk mendengarkan musik atau dengan urusan kita melalui laptop dan handphone. Berapa banyak orang yang membalas senyum bellboy yang membuka pintu mal, atau mengucapkan terima kasih pada tukang parkir?
Siapa pun mereka, entah itu sopir, pelayan, tukang sapu jalan, bahkan PSK, perampok dan korbannya sekali pun, memiliki kisah hidup dan kesulitannya sendiri. Dan saya merasa bersalah karena sempat malas-malasan mendengarkan awal cerita si pak sopir taksi itu. Yang dia butuhkan hanyalah meluapkan perasaan kalutnya, perasaan takutnya. Dan kebetulan saja, saya pernah mengalami hal yang sama. Apa salahnya jika sekali itu saya melupakan rasa lelah, dan meminjamkan telinga untuk mendengarkan keluh kesahnya, hanya untuk 20 menit saja?
Ya, setiap individu membawa kisah sendiri di belakang mereka. Yang perlu kita lakukan adalah membuka telinga lebih lebar untuk mendengarkan kisah mereka agar kita mengerti.
Jakarta, 6 Juni 2010,
Risty Nurraisa
*Semoga kisah ini tidak menginspirasi modus baru bagi para pelaku kejahatan. Amin. :)*
Thursday, March 10, 2011
University of Life
March 10, 2011
Just another ordinary day, and now I'm lying peacefully on my bed, watching The Kardashians. Thinking how great it would be to live in their shoes. Not that I'm not grateful with I've got in my life.
Back in September 2008, I thought my life was going perfect. I just lost my dad a year before that - I was only 21 when my dad gone - and I thought God has given me the best prize after all of the struggle I've gone through. I was hired in a lifestyle magazine where I started as an intern, pretty much right after I graduated college. I thought wow, how lucky I am. I mean, not to brag, but... how many people could have a job just a couple of weeks after they were graduated. :)
And the good news didn't stop there. In 2009, I met a couple of Indonesian greatest writers. I felt like God is generously opening my way to reach my dream: being a writer (yes, I wanna be a writer, and not just because it's some kind of a hot profession today, but merely because I feel like there's nothing I can do better than writing).
Anyhow, days gone by, and suddenly, everything changed. Mom asked me to help her in building a family business. I admit, at that time, I was trying to play hero. I gave up my dream of being a writer, and I turn the whole way back to the business world... I didn't make it. After a couple of months, I felt like I couldn't breathe without writing. And so, I started this thing: translating novels. And during that time, I also succeeded in finishing two teenage novels.
But after a half year translating novels and helping my mom with her business, I was bored. Felt like I wasn't alive. And so, after getting through a big argument with my mom, I decided to back on track: work again in a lifestyle magazine. This time, in a bigger company.
Ever since then - June 2010 to be precised - I've been juggling my life: as a reporter, a translator, an author, and a good daughter to my mom. Yes, three years after my dad was gone, things are a bit rough at our house, especially financially, to be honest. And with my bigger sister moved to Bali, and my two younger brothers are still so young (not really, they're 22 yo, but sometimes still like 2 yo), I become my mom's shoulder to cry on. I know I can't complaint, and I'm NOT complaining.
Sometimes, I'm very happy if she can share her burden with me, remembering that she is getting older. But sometimes, I'm just tired. I'm tired of everything. I'm tired of having to ride a motorbike (well, my driver rides the bike, I'm just a passenger. But with polution in Jakarta... Gosh!!), and then queueing to take a bus (and oh my God... how people can turn into a hippopotamous when entering the bus), and walking to the office (this one is actually a pretty good sport for me), in the morning. The same thing happens when I go home. And when I'm home, I have my ears ready to listen what my mom wants to share. We eat dinner together, chat a lil bit with my brothers. And then, I'm starting to work on my sidejob. The same routine. Almost everyday.
And all the work I'm doing is for one thing, and one thing only: money. And I'm tired.
I know a lot of people there probably have more difficult life than mine. But you know what? All I want is just to live a peaceful life. A life where I don't have to run around Jakarta like crazy. A life where I can write with all my heart, all my passion, without being under the pressure of the goddamn deadlines. A life where I can see my mom smiles everyday. Is it too much to ask?
Yes, back in 2008-2009, I thought I was standing right in front of the door of my dreams. But no. What I had in those years was just an exercise to face the beginning of a journey. All the things I'm doing now, these are the beginning of my journey. I'm currently registered in the University of Life. Will I ever graduate?
I hope so...
Just another ordinary day, and now I'm lying peacefully on my bed, watching The Kardashians. Thinking how great it would be to live in their shoes. Not that I'm not grateful with I've got in my life.
Back in September 2008, I thought my life was going perfect. I just lost my dad a year before that - I was only 21 when my dad gone - and I thought God has given me the best prize after all of the struggle I've gone through. I was hired in a lifestyle magazine where I started as an intern, pretty much right after I graduated college. I thought wow, how lucky I am. I mean, not to brag, but... how many people could have a job just a couple of weeks after they were graduated. :)
And the good news didn't stop there. In 2009, I met a couple of Indonesian greatest writers. I felt like God is generously opening my way to reach my dream: being a writer (yes, I wanna be a writer, and not just because it's some kind of a hot profession today, but merely because I feel like there's nothing I can do better than writing).
Anyhow, days gone by, and suddenly, everything changed. Mom asked me to help her in building a family business. I admit, at that time, I was trying to play hero. I gave up my dream of being a writer, and I turn the whole way back to the business world... I didn't make it. After a couple of months, I felt like I couldn't breathe without writing. And so, I started this thing: translating novels. And during that time, I also succeeded in finishing two teenage novels.
But after a half year translating novels and helping my mom with her business, I was bored. Felt like I wasn't alive. And so, after getting through a big argument with my mom, I decided to back on track: work again in a lifestyle magazine. This time, in a bigger company.
Ever since then - June 2010 to be precised - I've been juggling my life: as a reporter, a translator, an author, and a good daughter to my mom. Yes, three years after my dad was gone, things are a bit rough at our house, especially financially, to be honest. And with my bigger sister moved to Bali, and my two younger brothers are still so young (not really, they're 22 yo, but sometimes still like 2 yo), I become my mom's shoulder to cry on. I know I can't complaint, and I'm NOT complaining.
Sometimes, I'm very happy if she can share her burden with me, remembering that she is getting older. But sometimes, I'm just tired. I'm tired of everything. I'm tired of having to ride a motorbike (well, my driver rides the bike, I'm just a passenger. But with polution in Jakarta... Gosh!!), and then queueing to take a bus (and oh my God... how people can turn into a hippopotamous when entering the bus), and walking to the office (this one is actually a pretty good sport for me), in the morning. The same thing happens when I go home. And when I'm home, I have my ears ready to listen what my mom wants to share. We eat dinner together, chat a lil bit with my brothers. And then, I'm starting to work on my sidejob. The same routine. Almost everyday.
And all the work I'm doing is for one thing, and one thing only: money. And I'm tired.
I know a lot of people there probably have more difficult life than mine. But you know what? All I want is just to live a peaceful life. A life where I don't have to run around Jakarta like crazy. A life where I can write with all my heart, all my passion, without being under the pressure of the goddamn deadlines. A life where I can see my mom smiles everyday. Is it too much to ask?
Yes, back in 2008-2009, I thought I was standing right in front of the door of my dreams. But no. What I had in those years was just an exercise to face the beginning of a journey. All the things I'm doing now, these are the beginning of my journey. I'm currently registered in the University of Life. Will I ever graduate?
I hope so...
Subscribe to:
Posts (Atom)



