Thursday, March 17, 2011

Love and Life

A lot of people - especially the singles - usually have some criteria or standard that they hope to find in their future mates. But for me, we need to know what life is, so we know what kind of friend we need in our lives.

And I think...

Life is a jungle. And so, we need a partner to show us the way. To protect us from the enemies that are lurking in the darkness.

Life is a battlefield. So, we need a friend to watch our back. To discuss every strategy for us to win the battle.

But most importantly...

Life is a roller coaster. We need our better half to calm us down as we go too high. To hold our hand as we go too fast. To share all the laughter, and just have fun with all the crazy ups and downs that life puts us through.


Regards,
Risty

Sunday, March 13, 2011

First Book Out!


Hey, all!!

Buku pertamaku udah keluar nih. Tentang sekelompok cewek remaja yang tinggal di asrama. Mereka punya diary tempat mereka curhat-curhatan. Ditunggu saran, kritik, dan masukannya. Kalo mo cerita2 tentang masa SMA kalian, silakan leave a comment di bawah ini. I'd be happy to hear it!!

Enjoy!


Regards,
Risty Nurraisa

Friday, March 11, 2011

Kisah Sopir Berseragam Biru

March 12th, 2011

The following article has actually been published on my Facebook account. But this is one of the experiences that I treasure the most in my life, and so, I'd like to share it again with you on my blog.
*
Every man has a story. We just need to listen carefully. 

Jarang-jarang saya merasa perlu menuliskan salah satu kisah yang saya alami sendiri. Tapi pengalaman saya dengan pak sopir di salah satu taksi berwarna biru di Jakarta yang saya tumpangi kemarin, rasanya patut saya bagi kepada teman-teman (eits, jangan pikir macam-macam dulu... ;p)

Tepatnya pada hari Sabtu, 5 Juni 2010 pukul 16.00, saya meminta pembantu lelaki saya untuk mencarikan taksi. Saya harus pergi ke salah satu mal yang terletak di pusat kota untuk keperluan kantor (lebih tepatnya, liputan untuk majalah tempat saya bekerja). Acaranya dimulai jam 5, dan mengingat jarak yang cukup jauh antara mal tersebut dengan rumah saya, rasanya lebih cepat mendapatkan taksi yang dicegat di jalan ketimbang pesan lewat telepon (lagi pula, entah kenapa, hari itu telepon perusahaan taksi tersebut bicara melulu).

Pukul setengah lima kurang, pembantu saya mengatakan bahwa taksi sudah datang. Karena saya belum selesai bersiap-siap, kontan, saya meminta pembantu saya untuk menyuruh si sopir menunggu sebentar. Saya pun segera mempercepat tangan saya bersiap-siap, shalat sebentar, lalu langsung turun dan pamit kepada ibu saya yang kebetulan sedang ada tamu. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah lima lebih, dan saya sudah yakin akan telat menghadiri acara itu. Apalagi semua orang bilang Jakarta lagi macet.

Dengan buru-buru pamit dari ibu dan tamunya, saya langsung melangkah ringan ke dalam taksi. Sopirnya ternyata sudah duduk di dalamnya. Tubuhnya cukup besar, kulitnya putih, dan usianya mungkin sekitar 50-60 tahun. Saya duduk manis di sebelah kiri bagian penumpang, dan menyebutkan tujuan saya.

Taksi saya bahkan belum meninggalkan rumah ketika pak sopir tiba-tiba menanyakan, “Mbak, itu pembantunya dari mana? Masa argo aja gak tau.”

Jujur, saat itu saya sangat malas untuk berbincang-bincang. Saya hanya tertawa kecil saja sambil sibuk menuliskan data di voucher yang diberikan kantor untuk pembayaran taksi nanti.

Ternyata, si pak sopir belum selesai. “Iya, kan saya disuruh nunggu. Saya tanya, ibu masih lama, nggak? Kira-kira argonya musti dinyalain nggak,” lanjutnya. “Pembantunya malah balik nanya, ‘Argo itu apa ya? Argo itu kayak apa sih?’” Si pak sopir tertawa. “Masa argo aja nggak tahu, ya? Terus, dia (pembantu saya) malah bilang, ‘Ntar aja kalo ibunya udah dateng, baru tanya musti nyalain argo apa nggak.’ Walah! Ya kalo penumpangnya udah dateng mah emang musti nyalain argo!”

Saya hanya tertawa-tawa saja mendengarnya. Pembantu saya itu memang agak bloon, tapi saya juga sedang malas berbicara panjang-lebar.

Si pak sopir tapi tetap terus mengoceh. “Masa orang Jakarta nggak tahu argo? Apa baru di Jakarta apa gimana?”

Sebenarnya pembantu saya itu sudah cukup lama bekerja di rumah saya. Tapi demi mempersingkat pembicaraan, sambil tertawa, saya hanya mengatakan, “Ya, dia memang masih baru.”

Si pak sopir kembali mengulang-ulang keheranannya terhadap pembantu saya yang tidak tahu argo sambil tertawa-tawa. Saya juga tertawa-tawa saja, berpikir bahwa akhirnya pembicaraan sudah selesai. Saya memang bukan orang yang senang berbasa-basi, apalagi dengan orang asing. Ditambah pula, badan saya cukup lelah karena minggu ini adalah minggu pertama saya bekerja di kantor baru. Saya hanya ingin duduk diam dengan tenang saja di taksi.

Rupanya, si pak sopir sedang in the mood to talk. “Saya tadi lagi jalan mau pulang. Tiba-tiba pembantunya nyegat saya.” Dan si pak sopir itu terus mengoceh mengatakan bahwa dia tadinya ingin segera pulang untuk bergantian dengan anaknya. Mungkin dia sempat mengatakan bahwa istrinya sakit. Mungkin juga dia sudah menyebutkan di mana istrinya dirawat. Entahlah. Saya tidak terlalu memperhatikan karena otak saya terlalu lelah untuk mendengarkan ocehannya saat itu. Saya hanya diam saja, berpura-pura mendengarkan.

Tapi, telinga saya terbuka ketika mendengar sang sopir dengan pelan mengatakan, “Dia susah makan. Beratnya turun dari 50-an jadi 29,5.”

“Sakit apa, Pak?” saya langsung bertanya.

“Kanker paru-paru.”

Wah. Penyakit yang sama yang menyerang ayah saya. “Stadium berapa?” tanya saya lagi.

“Itu pas ketauannya udah stadium 3. Sekarang dia gak bisa makan. Makan cuma seruput-seruput aja. Dua-tiga suap, itu juga dalam beberapa jam.” Dia menggeleng-gelengkan kepala.

Dari tempat saya duduk, saya dapat melihat wajah pak sopir terlihat sedih. “Emang kalo sakit gitu jadi nggak enak makan, ya, Pak,” kata saya, teringat akan betapa sulitnya menyuapi Papa di masa-masa sakitnya.

“Mending kalo nggak enak makan. Ini susah. Tenggorokannya itu lho, sakit banget katanya,” lanjut pak sopir.

Dan si pak sopir pun lanjut bercerita tentang rasa kasihannya kepada anak-anaknya yang masih kecil. Anaknya tiga. Yang pertama sudah dipingit oleh kakeknya di kampung, menemani si kakek yang sudah ditinggal oleh si nenek. “Saya kan anak tunggal, Mbak. Jadi kasihan si kakek itu sendirian di sana,” kata si pak sopir. Yang dua lagi? “Masih kecil-kecil. Saya kasihan sama anak-anak saya. Yang satu masih SMP. Yang satu masih kecil.” Anaknya yang SMP-lah yang sedang menunggu si ibu di rumah sakit saat itu. Dengan anaknya yang masih SMP itulah, si bapak ini ingin bertukar tempat menjaga sang ibu, namun tidak jadi karena pembantu saya mencegatnya. Saya jadi merasa bersalah.

“Untuk pengobatannya gimana? Di kemo-kemo gitu?” tanya saya, mengingat satu-satunya pengobatan yang paling sering digunakan untuk kanker adalah kemoterapi.

“Iya, dikemo.”

“Mungkin tenggorokannya sakit karena efek kemo.” Saya lalu menjelaskan sedikit bahwa efek-efek kemo itu bisa terjadi di bagian tubuh mana saja. Saya tahu hal ini dari pasien-pasien lain yang juga dikemo saat ayah saya mendapatkan pengobatan itu.

Pak sopir hanya mengangguk-angguk sambil mengatakan, “Ya, mungkin saja.”

Taksi terus melaju. Dan pembicaraan seputar kemoterapi kini berlanjut menjadi biaya untuk pengobatan itu. Ya, memang kemoterapi itu bukan perawatan murah.

“Tapi, itu dia. Saya bingung... Bingung banget ini gimana untuk ngobatinnya,” jawab si pak sopir. Dari suaranya terdengar jelas ia bingung. “Kanker itu kan penyakit konglomerat.”

Bukankah bagi orang yang nggak mampu bisa mendapatkan surat keterangan dari RT sehingga mereka diberi keringanan, atau bahkan gratis? Setahu saya begitu. Saya tanyakan hal itu kepada pak sopir.

“Yang ngeluarin surat itu dari walikota, Mbak, bukan RT,” jelas si sopir. “ Dan semuanya ada jenjangnya. Kalau untuk yang gratis, biasanya dikasih ke yang pengangguran, atau janda. Saya karena dihitung ada penghasilan, hanya diberi diskon 40% dari total biaya pengobatan.”

“Emang total semuanya berapa, Pak?” tanya saya.

“25 juta untuk 6 kali kemoterapi.”

Wow. Saya jadi teringat saat sulitnya mencari dana untuk mengobati Papa. Konglomerat atau bukan, rasanya simpanan uang semua orang akan terkuras habis jika salah satu anggota keluarganya terserang kanker.

“Atau,” lanjut si pak sopir. “Yang gratis itu biasanya dikasih ke yang terserang penyakit menular. Kayak malaria, gitu. Itu sampai kamar perawatannya pun dikasih gratis. Kalo kanker kan penyakit perorangan.”

What?! Jujur, menurut saya itu tidak adil. Menular atau tidak, kanker sama berbahayanya dengan penyakit menular yang mematikan. Dan orang kurang mampu yang terserang kanker pun seharusnya bisa mendapatkan kesempatan yang sama besarnya untuk sembuh seperti orang-orang yang mampu membayar lebih demi pengobatannya. Rasanya tidak adil jika si pak sopir ini tidak bisa memberikan pengobatan maksimal kepada istrinya hanya karena posisinya terjepit: si pak sopir bukan pengangguran, dan penyakit si istri bukan penyakit menular.

Tapi, saya hanya mengulum bibir, tidak tega menyampaikan pendapat saya itu. Di situasi yang sedang kalut itu, si pak sopir hanya butuh telinga yang mendengarkan, dan bukan bibir yang bisa menyulut marahnya kepada pihak lain. Dan setelah itu, si pak sopir pun memberi saya ilmu tambahan mengenai peraturan pemberian pengobatan gratis kepada orang yang kurang mampu. Ia menjelaskan bahwa pengobatan gratis bisa pula diberikan dari RT atau camat, tapi yang bersangkutan harus diobati di rumah sakit atau puskesmas di daerah mereka. Kanker bukan penyakit yang bisa disembuhkan di rumah sakit kecil, bukan? Istri pak sopir itu dirawat di salah satu rumah sakit besar di bilangan Kuningan, Jakarta.

Taksi itu kini melaju di daerah Senayan. Aneh. Semua orang mengatakan Jakarta macet. Tapi, saya tidak merasakan macet sedikit pun dalam perjalanan saya selain di lampu merah.

“Berapa lama sakitnya, Pak?” akhirnya saya bertanya. Saya sudahi melupakan rasa malas saya untuk berbincang-bincang.

“Kena vonisnya 4 bulan,” jawabnya. “Dirawat di rumah sakitnya 4 hari.”

Dan akhirnya pun, saya menceritakan bahwa ayah saya juga sakit kanker. Pak sopir kaget ketika saya mengatakan bahwa pertama kali divonis, ayah saya langsung dinyatakan stadium 4.

“Ayah saya juga sempet dikemo,” kata saya.

“Sempat dikemo berapa kali?” tanyanya.

“Enam kali,” jawab saya. “Tapi kemo kan sakit. Akhirnya kita pindah ke alternatif.”

Mendengar kata alternatif, pak sopir langsung kembali berceloteh, seakan-akan ia begitu alergi terhadap kata itu. “Ah! Alternatif! Saya udah gak percaya lagi sama alternatif. Istri saya itu makin parah karena dulunya ke alternatif. Itu kan obat-obatan mereka, kita nggak tahu apa isinya.”

Yah, saya sempat menjelaskan sebentar bahwa alternatif yang dipilih ayah saya tidak menggunakan obat. Hanya dengan totok ala sinsei saja. Tapi, mendengar pak sopir sepertinya sudah sangat alergi dengan alternatif, saya rasa saya tidak perlu memancing emosinya lebih jauh dengan menjelaskan bahwa alternatif yang dijalankan oleh Papa dilakukan oleh seseorang yang belajar tentang anatomi tubuh langsung di Shaolin, Tibet, selama 20 tahun.

“Alternatif itu... Saya heran. Mereka tuh kayak cari untung dari orang-orang yang lagi panik kayak kita ini. Lihat aja, untuk bayar iklan di TV aja udah berapa tuh?” lanjutnya dengan gusar.

*Note: kepada yang berkecimpung di dunia alternatif, mohon jangan diambil hati. Saya tahu tidak semua alternatif seburuk yang dikatakan pak sopir ini. Pendapat di atas murni diutarakan oleh seseorang yang pernah dikecewakan oleh sebuah pengobatan alternatif, dan dalam keadaan sulit seperti itu, saya rasa wajar jika akhirnya dia memukul rata penilaiannya terhadap dunia alternatif. Lagi pula, semua orang berhak memiliki pendapat masing-masing, kan? :)*

Setelah kembali menenangkan diri, si pak sopir pun bertanya, “Terus, bapaknya sekarang gimana? Sehat?”

Saya ragu-ragu menjawabnya. Bukan, bukan karena berat untuk mengatakan bahwa ayah saya sudah tiada. Saya sudah terbiasa dengan hal itu. Tapi, saya justru takut jawaban saya akan berimbas pada emosi pak sopir.

Namun, karena dia sudah bertanya, dengan pelan, saya menjawab, “Ayah saya udah pergi.”

“Nah, itu yang saya takut,” katanya dengan suara pelan. Nah, benar kan dugaan saya?

Di tengah perjalanan yang cukup lancar itu, akhirnya si pak sopir pun bertanya-tanya sedikit tentang penyakit ayah saya. Berapa lama sakitnya, kapan Papa pergi (untungnya si pak sopir tetap tidak tahu siapa ayah saya... ;p ).

Dan hati saya semakin terenyuh ketika pak sopir kembali menceritakan pengalamannya. “Waktu pertama kali denger vonis dokter itu,” katanya. “Dokter bilang, saya yang harus jelaskan ke istri saya pelan-pelan karena ini serius.” Dan setelah itu, sang dokter memberitahukan pak sopir bahwa istri pak sopir terserang kanker paru-paru stadium tiga. “Saya cuma bisa bengong. Setengah bulan nggak bisa kerja, cuma bengong aja. Mikir, gimana ini,” katanya, lirih. “Rasanya seperti disambar petir.”

Ia merentangkan tangannya ke atas. Mungkin berusaha menenangkan diri.

“Istri bapak memang ada keturunan kanker?” tanya saya. Rasa penasaran sudah tidak bisa dikuasai lagi.

“Nggak,” jawab si bapak. “Katanya, penyebab kankernya itu karena pikiran. Stres.”

Ya. Memang, Stres adalah musuh pertama manusia yang bisa menyebabkan kanker. Kebanyakan penderita kanker terserang penyakit itu karena stres, karena menyimpan perasaan dan masalahnya sendiri. Ayah saya begitu. Dan beberapa kenalan saya juga begitu.

Kami sudah semakin dekat dengan tempat tujuan. Gedung mal itu sudah terlihat, namun air mata saya bahkan semakin mengambang ketika pak sopir itu melanjutkan ceritanya. Bahwa istrinya tidak bisa jalan karena tubuhnya terlalu kurus. Bahwa istrinya sudah sering mengatakan ingin bunuh diri saja.

“Ya,” kata saya pelan. “Memang, untuk pasien kanker, yang harus dijaga adalah semangatnya.” Saya masih ingat betul ketika saya dan keluarga plus perawat Papa terus menyemangati Papa sementara Papa meronta-ronta kesakitan. “Tapi, susahnya, kan kita nggak tahu sakitnya gimana. Pernah tuh waktu itu, ibu saya nyemangatin Papa, Papa malah bilang, ‘Kamu kan nggak tahu sakitnya kayak apa!’”

Si pak sopir tertawa mendengar cerita itu. Jujur, ada sebersit rasa lega karena bisa membuat seseorang yang sedang dilanda panik tiba-tiba tertawa di tengah topik pembicaraan yang tidak bisa dibilang ringan itu.

Kami sudah hampir sampai, dan hati manusiawi saya terketuk untuk memberi sedikit bantuan kepada pak sopir. Tapi, saya juga mau tidak munafik. Mengingat berbagai macam akal bulus penjahat di Indonesia, benak saya sempat mempertanyakan apakah jangan-jangan semua ini akal-akalannya si pak sopir saja biar dapat uang?

Tapi, saya enyahkan pikiran itu. Pak sopir ini bercerita dengan sangat rinci. Tentang istrinya. Tentang anak-anaknya. Tentang perasaannya. Bahkan, sampai tentang jaminan kesehatan yang tidak bisa gratis untuk istrinya. Dan tentang kanker. Saya tahu, hanya orang-orang yang pernah mengalami saja yang bisa menceritakan secara detail betapa dunia seakan terbalik ketika salah seorang anggota keluarga kita tervonis kanker. Cerita itu tidak bisa dibuat-buat, apalagi sampai mengisi perjalanan selama 20 menit dari Cipete-Thamrin.

Dan bukan bermaksud pamer, tapi saya merasa harus menceritakan bagian terakhir dari perbincangan saya dengan pak sopir agar teman-teman tahu mengapa saya yakin si pak sopir tidak mengarang ceritanya.

Kami tiba di lobi mal besar itu tepat pukul 5 sore. Setelah selesai menuliskan biaya taksi di lembar voucher, saya pun menyerahkan kertas berwarna biru itu kepada pak sopir. Dan setelah itu, tangan saya langsung memberikan selembar uang yang menurut saya tidak akan cukup untuk memenuhi satu kali biaya kemoterapi istrinya. Tapi hanya segitu yang bisa saya bantu.

“Ini untuk bapak,” kata saya sambil menyerahkan uang itu. “Mudah-mudahan bisa bantu.”

“Ha?!” si pak sopir terperanjat, terlihat jelas ia tidak menyangka akan tindakan saya. Matanya membelalak kaget. Tangannya belum menyentuh uang itu. “Aduh, Neng. Saya jadi nggak enak...”

Mungkin detik itu juga dia merasa nggak enak karena kesannya ia menumpahkan kisahnya untuk mendapatkan uang. Sama seperti pertanyaan saya beberapa detik sebelumnya.

“Nggak pa-pa, Pak,” kata saya sambil tersenyum dan terus memaksanya mengambil uang itu. “Saya juga pernah ngerasain, soalnya.”

Pak sopir pun menerima uang itu sambil mengucapkan terima kasih beberapa kali. Dan setelah pak sopir mengingatkan saya agar barang saya jangan ada yang tertinggal, saya melangkah keluar dari taksi itu, dan menutup pintu berwarna biru itu di belakang saya dengan hati pilu dan mata berkaca-kaca. Namun senyum menghiasi wajah saya, lega karena setidaknya bisa membantu biarpun sekadar meminjamkan telinga saja.

*

Hari itu, saya pulang malam karena melakukan liputan di dua tempat. Namun, selama melakukan peliputan dan kembali pulang ke rumah, pikiran saya masih melayang-layang memikirkan pembicaraan saya dengan pak sopir sore itu.

Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, kadang kita lupa bahwa setiap individu memiliki ceritanya masing-masing. Kita terlalu sibuk dan egois dan lelah untuk membuka mata, menajamkan telinga, dan memerhatikan mereka yang berada di sekitar kita. Bahkan, tidak jarang terjadi perkelahian karena kedua belah pihak mungkin lagi sama-sama stres dengan masalah masing-masing (yang ini bisa terjadi dengan orang asing atau bahkan dengan orang terdekat kita sendiri, kan?)

Coba pikir, berapa banyak penumpang yang mau berbincang-bincang dengan sopir taksi? Jangankan sopir taksi, kadang sopir pribadi pun tidak pernah disapa selama perjalanan karena kita sibuk mendengarkan musik atau dengan urusan kita melalui laptop dan handphone. Berapa banyak orang yang membalas senyum bellboy yang membuka pintu mal, atau mengucapkan terima kasih pada tukang parkir?

Siapa pun mereka, entah itu sopir, pelayan, tukang sapu jalan, bahkan PSK, perampok dan korbannya sekali pun, memiliki kisah hidup dan kesulitannya sendiri. Dan saya merasa bersalah karena sempat malas-malasan mendengarkan awal cerita si pak sopir taksi itu. Yang dia butuhkan hanyalah meluapkan perasaan kalutnya, perasaan takutnya. Dan kebetulan saja, saya pernah mengalami hal yang sama. Apa salahnya jika sekali itu saya melupakan rasa lelah, dan meminjamkan telinga untuk mendengarkan keluh kesahnya, hanya untuk 20 menit saja?

Ya, setiap individu membawa kisah sendiri di belakang mereka. Yang perlu kita lakukan adalah membuka telinga lebih lebar untuk mendengarkan kisah mereka agar kita mengerti.

Jakarta, 6 Juni 2010,
Risty Nurraisa

*Semoga kisah ini tidak menginspirasi modus baru bagi para pelaku kejahatan. Amin. :)*

Thursday, March 10, 2011

University of Life

March 10, 2011

Just another ordinary day, and now I'm lying peacefully on my bed, watching The Kardashians. Thinking how great it would be to live in their shoes. Not that I'm not grateful with I've got in my life.

Back in September 2008, I thought my life was going perfect. I just lost my dad a year before that - I was only 21 when my dad gone - and I thought God has given me the best prize after all of the struggle I've gone through. I was hired in a lifestyle magazine where I started as an intern, pretty much right after I graduated college. I thought wow, how lucky I am. I mean, not to brag, but... how many people could have a job just a couple of weeks after they were graduated. :)

And the good news didn't stop there. In 2009, I met a couple of Indonesian greatest writers. I felt like God is generously opening my way to reach my dream: being a writer (yes, I wanna be a writer, and not just because it's some kind of a hot profession today, but merely because I feel like there's nothing I can do better than writing).

Anyhow, days gone by, and suddenly, everything changed. Mom asked me to help her in building a family business. I admit, at that time, I was trying to play hero. I gave up my dream of being a writer, and I turn the whole way back to the business world... I didn't make it. After a couple of months, I felt like I couldn't breathe without writing. And so, I started this thing: translating novels. And during that time, I also succeeded in finishing two teenage novels.

But after a half year translating novels and helping my mom with her business, I was bored. Felt like I wasn't alive. And so, after getting through a big argument with my mom, I decided to back on track: work again in a lifestyle magazine. This time, in a bigger company.

Ever since then - June 2010 to be precised - I've been juggling my life: as a reporter, a translator, an author, and a good daughter to my mom. Yes, three years after my dad was gone, things are a bit rough at our house, especially financially, to be honest. And with my bigger sister moved to Bali, and my two younger brothers are still so young (not really, they're 22 yo, but sometimes still like 2 yo), I become my mom's shoulder to cry on. I know I can't complaint, and I'm NOT complaining.

Sometimes, I'm very happy if she can share her burden with me, remembering that she is getting older. But sometimes, I'm just tired. I'm tired of everything. I'm tired of having to ride a motorbike (well, my driver rides the bike, I'm just a passenger. But with polution in Jakarta... Gosh!!), and then queueing to take a bus (and oh my God... how people can turn into a hippopotamous when entering the bus), and walking to the office (this one is actually a pretty good sport for me), in the morning. The same thing happens when I go home. And when I'm home, I have my ears ready to listen what my mom wants to share. We eat dinner together, chat a lil bit with my brothers. And then, I'm starting to work on my sidejob. The same routine. Almost everyday.

And all the work I'm doing is for one thing, and one thing only: money. And I'm tired.

I know a lot of people there probably have more difficult life than mine. But you know what? All I want is just to live a peaceful life. A life where I don't have to run around Jakarta like crazy. A life where I can write with all my heart, all my passion, without being under the pressure of the goddamn deadlines. A life where I can see my mom smiles everyday. Is it too much to ask?

Yes, back in 2008-2009, I thought I was standing right in front of the door of my dreams. But no. What I had in those years was just an exercise to face the beginning of a journey. All the things I'm doing now, these are the beginning of my journey. I'm currently registered in the University of Life. Will I ever graduate?

I hope so...