Wednesday, June 22, 2011

Ngidam Yang Susah....

Nerusin cerita liburan di Bali, ada satu dessert yang sepertinya akan memenangkan gelar Dessert of the Year dari saya. Udah lupa sih, nama persis di menunya itu apa. Yang pasti, komponen makanannya terdiri dari apel yang direbus, cinnamon caramel, es krim vanilla, dan ada semacam crust di bawah es krimnya, yang rasanya manis, tapi entah terbuat dari apa.

Waktu memesan menu ini, jujur aja, saya nggak nyangka bahwa rasanya akan seistimewa itu. Bahkan, ketika piringnya datang ke depan mata, mulut kontan berkomentar, "Woooww!".... Dan si pelayan masih berdiri di samping saya. Soalnya, sebenernya, saya memesan menu yang ini hanya supaya makanan yang disantap oleh kakak, sepupu, dan saya, beda-beda, jadi bisa saling nyicip. 

Satu sudah pesan banana crepe, dan satu lagi sudah pesan banana split. Terpaksa, saya menjatuhkan pilihan ke menu yang masih asing namanya, berharap rasanya nggak akan kalah dengan menu yang udah lebih familiar. Siapa sangka, ternyata dessert yang saya pilih malah menjadi 'pemenangnya'.

Dessert ini jadi lebih nikmat karena suasana tempat makannya bener-bener beda. Memang, pengunjungnya cuma kita bertiga, tapi di situlah enaknya. Serasa tempat itu jadi milik sendiri. Dan kita duduk di pinggir cafe, dengan pemandangan laut tepat di depan mata (deskripsi lebih jelas ada di '...That Peaceful Place...').

Dengan dessert yang menggiurkan, dan hamparan laut serta debur ombak... bener-bener sebuah momen yang I would treasure for... ever. 

Sayangnya, sekarang udah kembali ke Jakarta. Dan di tengah sunyinya malam, dan dinginnya AC... tiba-tiba, lidah ini ingin merasakan kembali manisnya dessert itu. Apel yang direbus hingga garing dan manis, dicampur dengan saus karamel dari kayu manis. Plus es krim vanilla dan crust yang lembut-crunchy. Nyaammm... Tapi, ngidam ini harus diredam, karena susah untuk mendapatkannya.

Memang, harganya hanya sekitar Rp50.000. Tapi, kita harus terbang dulu ke Bali, lalu menempuh perjalanan selama 2 hingga 3 jam ke Amed, baru deh bisa menikmati dessert ini plus pemandangan laut... Ngidam yang susah, euy! 

Tapi, kalo lagi ke Bali, cukup worth it juga sih menyisakan satu hari khusus ke sana. Lagian, kapan lagi bisa makan es krim di pinggir laut? Berdoa aja supaya itu cafe masih buka, karena nggak banyak turis yang ke sana. Tempat itu memang belum banyak orang yang tahu... Tapi, saya lupa nama cafe-nya apa. Hehehe... 

Biar lebih jelas makanan yang dimaksud kayak apa, ini fotonya:


Sekarang, bayangin aja makan itu, sambil memandangi ini:


Ngiler? Memang itulah tujuannya, supaya saya nggak ngidam sendirian.. hahahahaa... ;p


Regards,
Risty

Bintang, Bintang, Bintang...

Jauh tinggi, ke tempat kau berada... -Bintang Kecil-

Dulu, waktu masih kecil, hampir setiap malam saya dan kakak (dan sepupu, kalo dia lagi nginep di rumah), keluar rumah, dan menatap langit malam. Nggak peduli dengan dinginnya udara. Hanya untuk melihat kerlip bintang yang bermunculan satu per satu. Lebih bagus lagi kalau di tengahnya ada bulan yang bersinar jernih.

Seiring berjalannya waktu (baca: bertambahnya polusi di Jakarta), makin hari, bintang pun makin sepi. Dan makin hari, kita pun makin malas lagi keluar rumah di malam-malam. Nggak ada lagi yang bisa dilihat di tengah gelapnya malam.

Maka, suatu malam di Anyer pun menjadi salah satu kenangan yang rasanya seperti mimpi. Waktu itu, saya dan beberapa sepupu, juga kakak dan adek2, plus bokap-nyokap dan beberapa om dan tante (kayak iklan mobil yak? ;p) liburan ke Anyer. Tahun berapa persisnya, saya lupa. Yang pasti kayaknya waktu itu saya masih SD. Kita nginep di Anyer untuk beberapa malam. Tapi, hanya satu malam saja yang membekas di memori dari liburan itu, hingga saat ini.

Di depan villa milik salah satu sepupu, kami, bocah-bocah kecil, ngeriung di kap mobil. Entah siapa yang memulai, tapi rasanya, tahu-tahu, kepala kami semua menengadah ke atas. Ke langit malam. Terpana.

Di atas kami, lautan bintang berkelip. Rasanya, langit adalah kanvas dengan warna dasar hitam, lalu diberi sentuhan titik-titik keperakan di setiap ruangnya. Rasanya, kami seperti di bawah selimut berwarna hitam dengan gemerlap manik-manik putih keperakan di sana-sini.

Dan yang lebih menghebohkan lagi, di antara titik-titik bintang malam itu, tiba-tiba di tengah legamnya malam, muncul... (tenang, ini nggak horor, kok ;p)... serbuk-serbuk keperakan yang seperti sedang 'lari', lalu menghilang.

"Itu apa, sih? Bintang jatuh, ya?!"

Saya lupa siapa yang pertama kali menyerukan komentar itu, tapi yang pasti, yang melihat bintang jatuh itu nggak cuma satu orang saja. Yang juga melihat sinar keperakan itu, langsung berseru, "IYA!" sambil menunjuk tempat terjadinya bintang jatuh tadi ke sepupu-sepupu yang ketinggalan.

Masih belum selesai ngebahas bintang jatuh yang pertama, tiba-tiba ada lagi yang berteriak, "Itu dia!" Dan seperti efek domino, dalam beberapa detik, bocah-bocah kecil ini pun semakin berisik, berteriak girang setiap kali melihat bintang-bintang 'berjatuhan' di hampir setiap sudut langit.

Sungguh sebuah pemandangan langka untuk anak-anak kota yang dibesarkan di bawah langit penuh polusi udara.

Dan momen istimewa itu berlangsung cukup lama, lho. Dan itu artinya, cukup banyak bintang jatuh yang kami lihat malam itu. Hampir di setiap detik. Saking banyaknya, sampe nggak tahu lagi mau make a wish apa. Dan saking ramainya bocah-bocah ini kegirangan melihat bintang jatuh, salah satu tante sampai ada yang keluar dari villa, ikut menatap ke atas. Tapi, dia bilang, "Mana, sih? Kok, Tante nggak lihat apa-apa, ya. Udah kebanyakan dosa kali, ya, jadi nggak bisa lihat lagi. Anak-anak masih belom ada dosanya, jadi masih bisa lihat."

Sebuah komentar yang langsung disambut oleh teriakan si bocah-bocah, "Ada! Banyak banget!"

Langit malam waktu itu benar-benar bersih. Dan bertahun-tahun berlalu, saya berharap masih bisa kembali melihat langit malam sejernih waktu itu. Sayang, nggak tahu harus ke mana. Masa ke Planetarium? Nggak seru ah kalo nggak asli... ;p

Tapi, keinginan untuk merasakan kembali pengalaman istimewa itu, cukup terbayarkan ketika liburan di Bali kemarin. Memang, bintangnya nggak sebanyak seperti waktu di Anyer dulu. Tapi, masih cukup banyak jika dibandingkan dengan Jakarta (ya iyalah. Langit Jakarta mah sepi). Lagi-lagi, saya, kakak, dan sepupu, menatap ke langit malam, kali ini kita di dalam mobil. Dan tiba-tiba...

"A shooting star!"

Sekelebat cantik sinar keperakan lagi-lagi terulas di tengah gelapnya angkasa. Dan lagi-lagi, saya dan kakak kegirangan, kayak waktu masih bocah dulu (untung aja nggak dimarahin orang-orang di sekitar, karena waktu itu, sebenernya kita lagi di perumahan... hehe...).

Dan momen itu menyadarkan saya betapa saya ingin hidup di bawah langit malam yang bersih. Di mana hamparan bintang merajai langit malam. Dengan kerlip bintang jatuh yang berwarna putih keperakan itu memberi sentuhan cantik. Saya nggak bisa membayangkan, betapa cantiknya pasti langit malam di masa ketika gugus bintang masih menjadi penunjuk arah. I wish I had lived in those years.

Kini, setiap kali keluar dari gedung kantor, sambil berjalan menuju halte bus TransJakarta, saya selalu menatap ke atas. Berharap, somehow, jajaran bintang menyapa. Tapi ya, namanya juga di Jakarta. Mau lihat cantiknya bulan purnama aja susah karena ketutupan gedung-gedung, gimana mau lihat bintang?

Di manakah saya harus hidup, agar bisa melihat lagi keindahan alam yang sangat jujur itu? Semoga suatu saat saya bisa membangun rumah di tempat yang jernih udaranya, supaya setiap malam bisa menikmati cantiknya semesta di angkasa...


Regards,
Risty

Thursday, June 16, 2011

... That Peaceful Place ...

Wow... It has been quite a while since I last wrote something on the blog. Work has been consuming all of my time and energy, not to mention that we just published an additional magazine, a collector's edition of Hello! Indonesia Prince William and Catherine Middleton's wedding, to be precised. Have you had one of those? (Yes, I am promoting)... :)

Anyway, all those stress now are gone, because not only the deadline has passed, but also because I just had the best vacation ever!! So, a couple of months ago, I was really stressed out with all the work, and all the traffic in Jakarta, and everything. And I don't know why, I feel that I miss Bali so much... and my sister who lives in Bali, of course.

So, without thinking twice, I booked a plane to have a four-day holiday in Bali... and I'd never regret that decision.

We started our first day by watching the sunset from a pool at The Stones, Kuta. This is the kind of pool that I usually see on TV. That I'd never thought I'd be able to swim in in my life. You know, the kind of pool where we can see the ocean from the edge of it. It was one of the most awesome place to enjoy the sunset... And most importantly, that moment was so much fun because I got to spend it with two of my best friends: my sister and my cousin. :)

The second day, my cousin and I spent a great time at Bedugul, riding a speedboat. My sister couldn't join us because she had to prepare for her high school's prom night... But that day... It was another experience. The lake is so vast, and just by looking down the water from the boat, I can feel that it's very deep. I was kind of hoping a Lochness showed up! Haha... But, that's gotta be quite scary, rite?

But as we rode on the speedboat, I could see the mist covering the mountain in front of us. It was very mystical, I felt like I was one of the students on a boat in the Harry Potter movie, coming to Hogwarts... (Okay, I'm a Harry Potter freak ;p)

Enough with the speedboat. We took a walk around the lake, and though there were a lot of tourists around us, children running around here and there, we just sat on a bench, didn't care with the world that was revolving around us. We sat and enjoyed the chill breeze, with Mandy Moore's Merrimack River played from the iPod. What a peaceful moment...

But, nothing more peaceful than the next day. We went to Amed, to go snorkelling. But it wasn't the snorkelling that 'wow'-ed us. It was the restaurant we ate for lunch and the cafe where we had our dessert. It was located right the edge of a cliff, and from there, we can see the vast ocean. And no one was there except the three of us (and the servants, of course). Enjoying ice cream with the ocean in front of us, and the sound of the wave, and the breeze of the wind.... I'd trade anything to feel that moment again. It's something that I'd surely treasure. That memory would be some kind of a medicine to cure my stress in Jakarta. I even took a picture of the ocean, and made it as the wallpaper on my cellphone, just to remind me that those moments weren't just a dream.

To be honest, I've never been in love with a place like this. I even was in tear at the airport. I wasn't sad with the fact that I had to say goodbye to my sister.... I was sad to leave Bali. People say that Bali is now overexposed... But I don't know why and what... I just feel there's something different with the island. Something so peaceful, that I didn't find anywhere else (not that I've been to a lot of places in Indonesia ;p)

In Bali, I felt that I found the balance I've been looking for. A balance that I didn't find in Jakarta. I could hear the voice in my heart clearly. I felt so peaceful. I felt... SANE!

If I could, I wanna hold Bali so tight in my arms (okay, this is hyperbole ;p).. And now that I'm in Jakarta, I realize that I feel like a fish out of water here. Like today, I just returned a bunch of clothes to one of a famous clothing line in Jakarta. There was a big sale there, and of course, there were a bunch of people panicking over the stuff they wanted to get. And then, I went to an event where the MC closed the show by saying, "Don't forget to shop because you can get the 20% discount on today only!"

I mean, I don't know... for me, the people here are just too consumptive. The word 'DISCOUNT' is like an oasis for them. And this environment.... is just not where I belong.

I am dreaming of living in Bali... together with my own little family where we can see the vast ocean, hear the sound of the waves, breathe the fresh air, and go out refreshing without having to pay for anything (in Jakarta, if we go out, we have to pay for something. In Bali, if we go out, we can go straight to the beach. That way, we don't have to spend some money every time we go, you know what I mean?)

But there's still just some things I have to do in Jakarta. So, hopefully, soon enough, I'll be able to make my dream of living in Bali comes true. Because, I just need to have that balance between work and refreshing. Balance between socializing with people and, in the same time, admiring the mother earth that God created. I just need to feel sane. And so far, I think I found those feeling in Bali.

Let's see if I can really make my dream comes true! Wish me luck! :)


Regards,
Risty