Jauh tinggi, ke tempat kau berada... -Bintang Kecil-
Dulu, waktu masih kecil, hampir setiap malam saya dan kakak (dan sepupu, kalo dia lagi nginep di rumah), keluar rumah, dan menatap langit malam. Nggak peduli dengan dinginnya udara. Hanya untuk melihat kerlip bintang yang bermunculan satu per satu. Lebih bagus lagi kalau di tengahnya ada bulan yang bersinar jernih.
Seiring berjalannya waktu (baca: bertambahnya polusi di Jakarta), makin hari, bintang pun makin sepi. Dan makin hari, kita pun makin malas lagi keluar rumah di malam-malam. Nggak ada lagi yang bisa dilihat di tengah gelapnya malam.
Maka, suatu malam di Anyer pun menjadi salah satu kenangan yang rasanya seperti mimpi. Waktu itu, saya dan beberapa sepupu, juga kakak dan adek2, plus bokap-nyokap dan beberapa om dan tante (kayak iklan mobil yak? ;p) liburan ke Anyer. Tahun berapa persisnya, saya lupa. Yang pasti kayaknya waktu itu saya masih SD. Kita nginep di Anyer untuk beberapa malam. Tapi, hanya satu malam saja yang membekas di memori dari liburan itu, hingga saat ini.
Di depan villa milik salah satu sepupu, kami, bocah-bocah kecil, ngeriung di kap mobil. Entah siapa yang memulai, tapi rasanya, tahu-tahu, kepala kami semua menengadah ke atas. Ke langit malam. Terpana.
Di atas kami, lautan bintang berkelip. Rasanya, langit adalah kanvas dengan warna dasar hitam, lalu diberi sentuhan titik-titik keperakan di setiap ruangnya. Rasanya, kami seperti di bawah selimut berwarna hitam dengan gemerlap manik-manik putih keperakan di sana-sini.
Dan yang lebih menghebohkan lagi, di antara titik-titik bintang malam itu, tiba-tiba di tengah legamnya malam, muncul... (tenang, ini nggak horor, kok ;p)... serbuk-serbuk keperakan yang seperti sedang 'lari', lalu menghilang.
"Itu apa, sih? Bintang jatuh, ya?!"
Saya lupa siapa yang pertama kali menyerukan komentar itu, tapi yang pasti, yang melihat bintang jatuh itu nggak cuma satu orang saja. Yang juga melihat sinar keperakan itu, langsung berseru, "IYA!" sambil menunjuk tempat terjadinya bintang jatuh tadi ke sepupu-sepupu yang ketinggalan.
Masih belum selesai ngebahas bintang jatuh yang pertama, tiba-tiba ada lagi yang berteriak, "Itu dia!" Dan seperti efek domino, dalam beberapa detik, bocah-bocah kecil ini pun semakin berisik, berteriak girang setiap kali melihat bintang-bintang 'berjatuhan' di hampir setiap sudut langit.
Sungguh sebuah pemandangan langka untuk anak-anak kota yang dibesarkan di bawah langit penuh polusi udara.
Dan momen istimewa itu berlangsung cukup lama, lho. Dan itu artinya, cukup banyak bintang jatuh yang kami lihat malam itu. Hampir di setiap detik. Saking banyaknya, sampe nggak tahu lagi mau make a wish apa. Dan saking ramainya bocah-bocah ini kegirangan melihat bintang jatuh, salah satu tante sampai ada yang keluar dari villa, ikut menatap ke atas. Tapi, dia bilang, "Mana, sih? Kok, Tante nggak lihat apa-apa, ya. Udah kebanyakan dosa kali, ya, jadi nggak bisa lihat lagi. Anak-anak masih belom ada dosanya, jadi masih bisa lihat."
Sebuah komentar yang langsung disambut oleh teriakan si bocah-bocah, "Ada! Banyak banget!"
Langit malam waktu itu benar-benar bersih. Dan bertahun-tahun berlalu, saya berharap masih bisa kembali melihat langit malam sejernih waktu itu. Sayang, nggak tahu harus ke mana. Masa ke Planetarium? Nggak seru ah kalo nggak asli... ;p
Tapi, keinginan untuk merasakan kembali pengalaman istimewa itu, cukup terbayarkan ketika liburan di Bali kemarin. Memang, bintangnya nggak sebanyak seperti waktu di Anyer dulu. Tapi, masih cukup banyak jika dibandingkan dengan Jakarta (ya iyalah. Langit Jakarta mah sepi). Lagi-lagi, saya, kakak, dan sepupu, menatap ke langit malam, kali ini kita di dalam mobil. Dan tiba-tiba...
"A shooting star!"
Sekelebat cantik sinar keperakan lagi-lagi terulas di tengah gelapnya angkasa. Dan lagi-lagi, saya dan kakak kegirangan, kayak waktu masih bocah dulu (untung aja nggak dimarahin orang-orang di sekitar, karena waktu itu, sebenernya kita lagi di perumahan... hehe...).
Dan momen itu menyadarkan saya betapa saya ingin hidup di bawah langit malam yang bersih. Di mana hamparan bintang merajai langit malam. Dengan kerlip bintang jatuh yang berwarna putih keperakan itu memberi sentuhan cantik. Saya nggak bisa membayangkan, betapa cantiknya pasti langit malam di masa ketika gugus bintang masih menjadi penunjuk arah. I wish I had lived in those years.
Kini, setiap kali keluar dari gedung kantor, sambil berjalan menuju halte bus TransJakarta, saya selalu menatap ke atas. Berharap, somehow, jajaran bintang menyapa. Tapi ya, namanya juga di Jakarta. Mau lihat cantiknya bulan purnama aja susah karena ketutupan gedung-gedung, gimana mau lihat bintang?
Di manakah saya harus hidup, agar bisa melihat lagi keindahan alam yang sangat jujur itu? Semoga suatu saat saya bisa membangun rumah di tempat yang jernih udaranya, supaya setiap malam bisa menikmati cantiknya semesta di angkasa...
Regards,
Risty
I feel you ty.. Lets go and find that peaceful place.. (kok kesannya kaya surat bunuh diri haha)
ReplyDelete:)